Home > Posts filed under Descendants of The Sun
Descendants of the Sun Episode 10 jumat 5 agustus 2016 - Kang Mo Yeon memutuskan untuk mengobati Argus yang tertembak. Argus mengincar salah seorang anak perempuan di desa tersebut, tetapi Kang Mo Yeon dan Yoo Shi Jin melindunginya.
Argus dan anak buahnya pergi karena takut anggota militer segera datang. Namun, Letnan Jenderal Yoon menyuruh anggota militer untuk tidak ikut campur masalah Argus.
Kang Mo Yeon dan Yoon Myung Joo menerima paket misterius yang ditujukan pada pasangan mereka. Sebuah kejutan menanti dalam paket tersebut yang berhasil membuat Yoo Shi Jin dan Seo Dae Young panik.
Anak perempuan yang ditolong Kang Mo Yeon kabur membawa obat-obatan. Ia ternyata bekerja sama dengan anak buah Argus. Kang Mo Yeon dan Yoo Shi Jin sukses menangkap mereka. Meski kecewa, Kang Mo Yeon berjanji akan menolong pendidikan anak tersebut.
Di sisi lain, anak buah Argus berhasil menangkap manajer konstruksi yang kabur membawa berlian. Nasib baik tidak berada di pihak Argus terlalu lama karena Yoo Shi Jin berhasil menangkap kembali manajer tersebut.
Manajer tersebut ternyata sakit setelah menelan berlian. Ketika Kang Mo Yeon dan Yoon Myung Joo mengoperasinya, mereka secara tidak sengaja terkontaminasi virus misterius.
Uttaran | Veera | Naagin | Kaali dan Gauri | Efsun dan Bahar | Anandhi | Candra Kirana | Rahasia Cinta | Anak Jalanan | Ranveer dan IshaniArgus dan anak buahnya pergi karena takut anggota militer segera datang. Namun, Letnan Jenderal Yoon menyuruh anggota militer untuk tidak ikut campur masalah Argus.
Kang Mo Yeon dan Yoon Myung Joo menerima paket misterius yang ditujukan pada pasangan mereka. Sebuah kejutan menanti dalam paket tersebut yang berhasil membuat Yoo Shi Jin dan Seo Dae Young panik.
Anak perempuan yang ditolong Kang Mo Yeon kabur membawa obat-obatan. Ia ternyata bekerja sama dengan anak buah Argus. Kang Mo Yeon dan Yoo Shi Jin sukses menangkap mereka. Meski kecewa, Kang Mo Yeon berjanji akan menolong pendidikan anak tersebut.
Di sisi lain, anak buah Argus berhasil menangkap manajer konstruksi yang kabur membawa berlian. Nasib baik tidak berada di pihak Argus terlalu lama karena Yoo Shi Jin berhasil menangkap kembali manajer tersebut.
Manajer tersebut ternyata sakit setelah menelan berlian. Ketika Kang Mo Yeon dan Yoon Myung Joo mengoperasinya, mereka secara tidak sengaja terkontaminasi virus misterius.
Descendants of the Sun Episode 5 Jumat 29 Juli 2016 - Setelah ciuman pertama mereka, Kang Mo Yeon langsung berubah menjadi canggung terhadap Yoo Shi Jin. Sementara Yoon Myung Joo menghapus rasa sedihnya ditinggal Seo Dae Young dengan meminta seseorang memata-matai kekasihnya selama di Korea Selatan.
Meskipun canggung, Kang Mo Yeon tetap harus pergi bersama Yoo Shi Jin untuk mengobati anak-anak di Urk. Ketika sedang pergi, Yoo Shi Jin kembali bertemu dengan seorang penyusup.
Penyusup tersebut sedang bersama pria asing yang ternyata dulu rekan militer Yoo Shi Jin, Argus. Yoo Shi Jin menyimpan kecurigaan bahwa Argus memiliki niat jahat. Kecurigaan tersebut benar karena Argus tengah mengincar sebuah berlian.
Di sisi lain, Kang Mo Yeon mencoba mengendarai mobil sendiri dimana ia menghindari sebuah truk dan nyaris masuk jurang. Beruntung Yoo Shi Jin segera datang dan menyelamatkan Kang Mo Yeon.
Kebersamaan Yoo Shi Jin dan Kang Mo Yeon harus berakhir karena Yoo Shi Jin akan kembali ke Korea Selatan. Sebelum pulang, Yoo Shi Jin kembali menanyakan tentang perasaan Kang Mo Yeon terhadap ciuman mereka. "Haruskah saya minta maaf atau menyatakan cinta?," ujar Yoo Shi Jin.
Uttaran | Veera | Naagin | Kaali dan Gauri | Efsun dan Bahar | Anandhi | Candra Kirana | Rahasia Cinta | Anak Jalanan | Ranveer dan IshaniMeskipun canggung, Kang Mo Yeon tetap harus pergi bersama Yoo Shi Jin untuk mengobati anak-anak di Urk. Ketika sedang pergi, Yoo Shi Jin kembali bertemu dengan seorang penyusup.
Penyusup tersebut sedang bersama pria asing yang ternyata dulu rekan militer Yoo Shi Jin, Argus. Yoo Shi Jin menyimpan kecurigaan bahwa Argus memiliki niat jahat. Kecurigaan tersebut benar karena Argus tengah mengincar sebuah berlian.
Di sisi lain, Kang Mo Yeon mencoba mengendarai mobil sendiri dimana ia menghindari sebuah truk dan nyaris masuk jurang. Beruntung Yoo Shi Jin segera datang dan menyelamatkan Kang Mo Yeon.
Kebersamaan Yoo Shi Jin dan Kang Mo Yeon harus berakhir karena Yoo Shi Jin akan kembali ke Korea Selatan. Sebelum pulang, Yoo Shi Jin kembali menanyakan tentang perasaan Kang Mo Yeon terhadap ciuman mereka. "Haruskah saya minta maaf atau menyatakan cinta?," ujar Yoo Shi Jin.
Descendants of the Sun Episode 4 Kamis 28 Juli 2016 - Yoo Shi Jin dan Kang Mo Yeon berada pada situasi genting. Kang Mo Yeon harus menyelamatkan Presiden Arab Saudi, tetapi pengawal presiden tersebut tidak membiarkan sembarang orang untuk mengoperasinya.
Yoo Shi Jin menentang perintah atasan serta pengawal pangeran untuk menunggu dokter presiden. Yoo Shi Jin langsung melindungi Kang Mo Yeon yang bersiap melakukan operasi. Untungnya, operasi tersebut sukses.
Sementara Seo Dae Young ditugaskan untuk kembali ke Korea Selatan. Sebelum pulang, Seo Dae Young tidak sengaja bertemu dengan Yoon Myung Joo. Yoon Myung Joo marah dengan keputusan ayahnya memindahkan Seo Dae Young. Melihat hal tersebut, Seo Dae Young langsung memeluk Yoon Myung Joo.
Yoo Shi Jin dan Kang Mo Yeon diundang untuk bertemu dengan pangeran Arab Saudi yang memberikan ucapan terima kasih beserta hadiah khusus. Meskipun begitu, Yoo Shi Jin tetap menerima hukuman atas perbuatannya menentang atasan.
Kang Mo Yeon tiba-tiba datang dan membela Yoo Shi Jin di depan atasan. Tapi, Yoo Shi Jin malah balik memarahi Kang Mo Yeon dan menekankan bahwa ini bukan salahnya.
Malamnya, mereka berbaikan. Kang Mo Yeon mengajak Yoo Shi Jin minum wine, tetapi ditolak karena Yoo Shi Jin tidak boleh minum wine saat tugas. Yoo Shi Jin akhirnya menemukan cara lain untuk bisa minum wine dengan mencium Kang Mo Yeon.
Uttaran | Veera | Naagin | Kaali dan Gauri | Efsun dan Bahar | Anandhi | Candra Kirana | Rahasia Cinta | Anak Jalanan | Ranveer dan IshaniYoo Shi Jin menentang perintah atasan serta pengawal pangeran untuk menunggu dokter presiden. Yoo Shi Jin langsung melindungi Kang Mo Yeon yang bersiap melakukan operasi. Untungnya, operasi tersebut sukses.
Sementara Seo Dae Young ditugaskan untuk kembali ke Korea Selatan. Sebelum pulang, Seo Dae Young tidak sengaja bertemu dengan Yoon Myung Joo. Yoon Myung Joo marah dengan keputusan ayahnya memindahkan Seo Dae Young. Melihat hal tersebut, Seo Dae Young langsung memeluk Yoon Myung Joo.
Yoo Shi Jin dan Kang Mo Yeon diundang untuk bertemu dengan pangeran Arab Saudi yang memberikan ucapan terima kasih beserta hadiah khusus. Meskipun begitu, Yoo Shi Jin tetap menerima hukuman atas perbuatannya menentang atasan.
Kang Mo Yeon tiba-tiba datang dan membela Yoo Shi Jin di depan atasan. Tapi, Yoo Shi Jin malah balik memarahi Kang Mo Yeon dan menekankan bahwa ini bukan salahnya.
Malamnya, mereka berbaikan. Kang Mo Yeon mengajak Yoo Shi Jin minum wine, tetapi ditolak karena Yoo Shi Jin tidak boleh minum wine saat tugas. Yoo Shi Jin akhirnya menemukan cara lain untuk bisa minum wine dengan mencium Kang Mo Yeon.
Selanjutnya : Descendants of the Sun Episode 5 jumat 29 Juli 2016
crack 7/28/2016 09:18:00 PM Serial TV Bandung, Indonesia
Berikut sinopsis Descendants of the Sun, Rabu 27 Juli 2016.
Kang Mo Yeon dan tim dokter tiba di Urk disambut oleh pasukan militer Korea Selatan pimpinan Yoo Shi Jin. Tetapi, Yoo Shi Jin malah mengacuhkan Kang Mo Yeon.
Sementara Yoon Myung Joo yang juga merupakan seorang letnan tengah bersiap menyusul Seo Dae Young ke Urk. Yoon Myung Joo menghadap ayahnya, Letnan Jenderal Yoon sebelum pergi.
Ayahnya menegaskan bahwa ia hanya menginginkan Yoo Shi Jin sebagai menantunya, tetapi Yoon Myung Joo menolaknya. Ia tetap setia kepada Seo Dae Young dan jika ayahnya tetap melarang, ayahnya dapat kehilangan dia sebagai tentara sekaligus anak.
Yoo Shi Jin dan timnya berhasil menangkap seorang penyelundup. Atasan Yoo Shi Jin meminta mereka untuk tidak menganggap remeh penyelundup yang dicurigai berada dalam suatu organisasi gelap.
Yoo Shi Jin dan Kang Mo Yeon akhirnya kembali berinteraksi meskipun terus bertengkar satu sama lain. Namun, Yoo Shi Jin akhirnya berbaik hati mengantarkan Kang Mo Yeon mencari internet jauh dari daerah terpencil.
Di perjalanan pulang, Yoo Shi Jin mengajak Kang Mo Yeon pergi ke sebuah pantai dan bercerita tentang cinta segitiga antara dirinya, Seo Dae Young, dan Yoon Myung Joo.
Ketika kembali ke kamp, sebuah alarm berbunyi menandakan seorang pasien penting tengah ada dalam perjalanan ke tempat tersebut.
Descendants of the Sun, Rabu 27 Juli 2016 tayang pukul 22.30 WIB di RCTI.
Uttaran | Veera | Naagin | Kaali dan Gauri | Efsun dan Bahar | Anandhi | Candra Kirana | Rahasia Cinta | Anak Jalanan | Ranveer dan IshaniKang Mo Yeon dan tim dokter tiba di Urk disambut oleh pasukan militer Korea Selatan pimpinan Yoo Shi Jin. Tetapi, Yoo Shi Jin malah mengacuhkan Kang Mo Yeon.
Sementara Yoon Myung Joo yang juga merupakan seorang letnan tengah bersiap menyusul Seo Dae Young ke Urk. Yoon Myung Joo menghadap ayahnya, Letnan Jenderal Yoon sebelum pergi.
Ayahnya menegaskan bahwa ia hanya menginginkan Yoo Shi Jin sebagai menantunya, tetapi Yoon Myung Joo menolaknya. Ia tetap setia kepada Seo Dae Young dan jika ayahnya tetap melarang, ayahnya dapat kehilangan dia sebagai tentara sekaligus anak.
Yoo Shi Jin dan timnya berhasil menangkap seorang penyelundup. Atasan Yoo Shi Jin meminta mereka untuk tidak menganggap remeh penyelundup yang dicurigai berada dalam suatu organisasi gelap.
Yoo Shi Jin dan Kang Mo Yeon akhirnya kembali berinteraksi meskipun terus bertengkar satu sama lain. Namun, Yoo Shi Jin akhirnya berbaik hati mengantarkan Kang Mo Yeon mencari internet jauh dari daerah terpencil.
Di perjalanan pulang, Yoo Shi Jin mengajak Kang Mo Yeon pergi ke sebuah pantai dan bercerita tentang cinta segitiga antara dirinya, Seo Dae Young, dan Yoon Myung Joo.
Ketika kembali ke kamp, sebuah alarm berbunyi menandakan seorang pasien penting tengah ada dalam perjalanan ke tempat tersebut.
Descendants of the Sun, Rabu 27 Juli 2016 tayang pukul 22.30 WIB di RCTI.
Descendants of the Sun Episode 2 selasa 26 juli 2016 - Yoo Shi Jin dan Kang Mo Yeon mulai menunjukkan ketertarikan antara satu sama lain. Hubungan mereka berlanjut. Kencan demi kencan mereka lalui.
Sayangnya, kencan mereka tidak selalu berjalan mulus. Pekerjaan Yoo Shi Jin sebagai tentara membuatnya harus siap menerima perintah tugas kapan pun itu. Ini berarti ia harus selalu meninggalkan Kang Mo Yeon sendirian jika tiba-tiba mendapat panggilan tugas.
Kang Mo Yeon kesal dan mulai pun mengkonfrontasi Yoo Shi Jin. Ia meminta kejelasan mengenai status pekerjaan Yoo Shi Jin, tetapi Yoo Shi Jin tetap diam membisu.
Kang Mo Yeon tidak bisa terus khawatir akan nasib Yoo Shi Jin dan memutuskan hubungan mereka. Perbedaan prinsip antara dokter dan tentara juga menjadi alasan lain penyebab berakhirnya hubungan mereka.
Delapan bulan berlalu, Yoo Shi Jin kini bertugas di sebuah daerah terpencil. Yoo Shi Jin bersama Seo Dae Young dan tentara Korea Selatan lainnya memiliki kamp khusus dan berjaga di tempat tersebut.
Sementara Kang Mo Yeon dan tim dokter lainnya kini mendapat tugas dari rumah sakit untuk menjadi relawan. Takdir sepertinya kembali mempertemukan Yoo Shi Jin dan Kang Mo Yeon karena mereka ditugaskan di daerah yang sama, Urk.
Descendants of the Sun hari ini, Selasa 26 Juli 2016 tayang pukul 22.30 WIB di RCTI.
Uttaran | Veera | Naagin | Kaali dan Gauri | Efsun dan Bahar | Anandhi | Candra Kirana | Rahasia Cinta | Anak Jalanan | Ranveer dan IshaniSayangnya, kencan mereka tidak selalu berjalan mulus. Pekerjaan Yoo Shi Jin sebagai tentara membuatnya harus siap menerima perintah tugas kapan pun itu. Ini berarti ia harus selalu meninggalkan Kang Mo Yeon sendirian jika tiba-tiba mendapat panggilan tugas.
Kang Mo Yeon kesal dan mulai pun mengkonfrontasi Yoo Shi Jin. Ia meminta kejelasan mengenai status pekerjaan Yoo Shi Jin, tetapi Yoo Shi Jin tetap diam membisu.
Kang Mo Yeon tidak bisa terus khawatir akan nasib Yoo Shi Jin dan memutuskan hubungan mereka. Perbedaan prinsip antara dokter dan tentara juga menjadi alasan lain penyebab berakhirnya hubungan mereka.
Delapan bulan berlalu, Yoo Shi Jin kini bertugas di sebuah daerah terpencil. Yoo Shi Jin bersama Seo Dae Young dan tentara Korea Selatan lainnya memiliki kamp khusus dan berjaga di tempat tersebut.
Sementara Kang Mo Yeon dan tim dokter lainnya kini mendapat tugas dari rumah sakit untuk menjadi relawan. Takdir sepertinya kembali mempertemukan Yoo Shi Jin dan Kang Mo Yeon karena mereka ditugaskan di daerah yang sama, Urk.
Descendants of the Sun hari ini, Selasa 26 Juli 2016 tayang pukul 22.30 WIB di RCTI.
Descendants of the Sun RCTI Episode 1 Senin 25 Juli 2016 - Descendants of the Sun dibuka dengan situasi mencekam antara pasukan militer Korea Selatan dan Korea Utara. Kapten Yoo Shi Jin (Song Joong Ki) dan Sersan Seo Dae Young (Jin Goo) mendapat tugas menyelamatkan tentara Korea Selatan yang disandera oleh tentara Korea Utara di perbatasan. Beruntung situasi bisa dikendalikan meskipun Yoo Shi Jin terkena luka tusuk di bagian perutnya.
Setelah kejadian tersebut, Yoo Shi Jin dan Seo Dae Young mendapat libur dinas. Mereka menghabiskan waktu dengan bersantai. Saat tengah bersantai, mereka melihat seorang pria muda mencuri sebuah sepeda motor. Yoo Shi Jin dan Seo Dae Young langsung menghentikan aksi pencuri tersebut.
Pencuri tersebut akhirnya masuk rumah sakit dan menjadi pasien Dokter Kang Mo Yeon (Song Hye Gyo). Ia mencoba kabur dari rumah sakit dan meninggalkan ponselnya. Ternyata ponsel tersebut adalah ponsel curian milik Seo Dae Young.
Yoo Shi Jin dan Seo Dae Young berusaha mencari ponsel tersebut ke rumah sakit dan bertemu Kang Mo Yeon. Kedua tentara ini akhirnya mendapat ponselnya kembali walaupun sempat terlibat salah paham dengan Kang Mo Yeon.
Seo Dae Young kemudian bertemu dengan mantan pacarnya, Yoon Myung Joo (Kim Ji Won) di rumah sakit. Yoon Myung Joo ikut panik karena mengira Seo Dae Young sedang sakit dan menanyakan alasan Seo Dae Young menghindarinya. Sayang, ia tidak mendapat jawaban pasti.
Sementara Yoo Shi Jin meminta agar luka tusuk yang ia dapat diobati oleh Kang Mo Yeon. Mereka mulai mengenal satu sama lain. Yoo Shi Jin berasumsi, "Sebagai dokter, kamu mungkin tidak punya pacar karena sangat sibuk".
Asumsi serupa juga dikatakan oleh Kang Mo Yeon kepada Yoo Shi Jin sambil tersenyum. Pertemuan tersebut meninggalkan kesan antara satu sama lain dan hubungan mereka berlanjut.
Sinopsis Descendants of the Sun hari ini, Senin 25 Juli 2016 tayang pukul 22.30 WIB di RCTI.
Uttaran | Veera | Naagin | Kaali dan Gauri | Efsun dan Bahar | Anandhi | Candra Kirana | Rahasia Cinta | Anak Jalanan | Ranveer dan IshaniSetelah kejadian tersebut, Yoo Shi Jin dan Seo Dae Young mendapat libur dinas. Mereka menghabiskan waktu dengan bersantai. Saat tengah bersantai, mereka melihat seorang pria muda mencuri sebuah sepeda motor. Yoo Shi Jin dan Seo Dae Young langsung menghentikan aksi pencuri tersebut.
Pencuri tersebut akhirnya masuk rumah sakit dan menjadi pasien Dokter Kang Mo Yeon (Song Hye Gyo). Ia mencoba kabur dari rumah sakit dan meninggalkan ponselnya. Ternyata ponsel tersebut adalah ponsel curian milik Seo Dae Young.
Yoo Shi Jin dan Seo Dae Young berusaha mencari ponsel tersebut ke rumah sakit dan bertemu Kang Mo Yeon. Kedua tentara ini akhirnya mendapat ponselnya kembali walaupun sempat terlibat salah paham dengan Kang Mo Yeon.
Seo Dae Young kemudian bertemu dengan mantan pacarnya, Yoon Myung Joo (Kim Ji Won) di rumah sakit. Yoon Myung Joo ikut panik karena mengira Seo Dae Young sedang sakit dan menanyakan alasan Seo Dae Young menghindarinya. Sayang, ia tidak mendapat jawaban pasti.
Sementara Yoo Shi Jin meminta agar luka tusuk yang ia dapat diobati oleh Kang Mo Yeon. Mereka mulai mengenal satu sama lain. Yoo Shi Jin berasumsi, "Sebagai dokter, kamu mungkin tidak punya pacar karena sangat sibuk".
Asumsi serupa juga dikatakan oleh Kang Mo Yeon kepada Yoo Shi Jin sambil tersenyum. Pertemuan tersebut meninggalkan kesan antara satu sama lain dan hubungan mereka berlanjut.
Sinopsis Descendants of the Sun hari ini, Senin 25 Juli 2016 tayang pukul 22.30 WIB di RCTI.
Kondisi di Haesung Solar Power, Uruk, yang dilanda gempa dahsyat belum stabil. Meski sudah ada beberapa orang yang berhasil diselamatkan dari reruntuhan namun ada pekerja-pekerja lain yang masih tertimbun. Misi penyelamatan pun kembali dilakukan oleh para tentara militer pimpinan Yoo Shi Jin (diperankan oleh Song Joong Ki).
Setelah mengutarakan perasaannya kepada Kang Mo Yeon (diperankan oleh Song Hye Kyo), Yoo Shi Jin kini mulai yakin bahwa tidak ada wanita lain yang menarik perhatiannya kecuali sang dokter cantik. Namun rupanya Kang Mo Yeon belum mau membuka pintu hatinya lebar-lebar untuk Yoo Shi Jin, walaupun sebenarnya ia sangat khawatir pada keselamatan sang Big Boss. Terutama ketika ia kembali masuk ke dalam reruntuhan untuk menyelamatkan Kang Min Jae.
Ketegangan karena gempa bumi masih meliputi tiga per empat dari episode 8. Gempa susulan mendadak terjadi sehingga membuat proses penyelamatan Kang Min Jae menjadi berlarut-larut. Belum lagi ketika Lee Chi Hoon (diperankan oleh Lee Jin Ki, Onew 'SHINee') tanpa sengaja melukai dirinya karena sempat gagal melakukan penyelamatan di awal sebelum Yoo Shi Jin turun tangan.
Bos Haesung Solar Power kembali membuat onar dengan secara paksa membongkar reruntuhan dengan alat berat demi menyelamatkan brankas berisi uang dan permata yang didapatkannya dari hasil bisnis kotor dengan Agus (David McInnis). Sehingga membuat kondisi semakin runyam karena Yoo Shi Jin pingsan di bawah sana tertimpa reruntuhan. Hampir saja Kang Mo Yeon menangis karena ini.
Seo Dae Young (diperankan oleh Jin Goo) terjun langsung menyelamatkan Yoo Shi Jin yang kemudian siuman karena dipanggil "Ajeossi!" terus-terusan oleh Kang Min Jae. "Berhenti panggil aku ajoessi!" katanya. Karena menurutnya usianya tidak setua itu. Ketika kondisi sudah mulai aman, di bawah reruntuhan itulah sang kapten curcol bahwa cintanya sudah ditolak tiga kali oleh Kang Mo Yeon.
"Aku yakin sekarang dia pasti sedang khawatir memikirkanku," katanya penuh percaya diri sambil tersenyum simpul.
Dan ya, di episode ini semuanya berakhir manis dan bahagia meski ketegangan seolah tak pernah habis sampai tiga-per-empat durasinya. Sampai tanpa sengaja Kang Mo Yeon membuka aibnya sendiri dengan membiarkan ponselnya memutar musik secara acak ke loudspeaker yang ada di barak militer hingga Medi Cube.
"Kalau aku tahu aku akan mati seperti ini, harusnya aku memberitahu perasaanku yang sebenarnya padamu. Aku telah dicium oleh seorang laki-laki yang luar biasa dan aku tidak bisa melupakan itu." suara Kang Mo Yeon didengar oleh hampir semua yang ada di sana termasuk Yoo Shi Jin yang tersenyum bahagia.
Setelah mengutarakan perasaannya kepada Kang Mo Yeon (diperankan oleh Song Hye Kyo), Yoo Shi Jin kini mulai yakin bahwa tidak ada wanita lain yang menarik perhatiannya kecuali sang dokter cantik. Namun rupanya Kang Mo Yeon belum mau membuka pintu hatinya lebar-lebar untuk Yoo Shi Jin, walaupun sebenarnya ia sangat khawatir pada keselamatan sang Big Boss. Terutama ketika ia kembali masuk ke dalam reruntuhan untuk menyelamatkan Kang Min Jae.
Ketegangan karena gempa bumi masih meliputi tiga per empat dari episode 8. Gempa susulan mendadak terjadi sehingga membuat proses penyelamatan Kang Min Jae menjadi berlarut-larut. Belum lagi ketika Lee Chi Hoon (diperankan oleh Lee Jin Ki, Onew 'SHINee') tanpa sengaja melukai dirinya karena sempat gagal melakukan penyelamatan di awal sebelum Yoo Shi Jin turun tangan.
Bos Haesung Solar Power kembali membuat onar dengan secara paksa membongkar reruntuhan dengan alat berat demi menyelamatkan brankas berisi uang dan permata yang didapatkannya dari hasil bisnis kotor dengan Agus (David McInnis). Sehingga membuat kondisi semakin runyam karena Yoo Shi Jin pingsan di bawah sana tertimpa reruntuhan. Hampir saja Kang Mo Yeon menangis karena ini.
Seo Dae Young (diperankan oleh Jin Goo) terjun langsung menyelamatkan Yoo Shi Jin yang kemudian siuman karena dipanggil "Ajeossi!" terus-terusan oleh Kang Min Jae. "Berhenti panggil aku ajoessi!" katanya. Karena menurutnya usianya tidak setua itu. Ketika kondisi sudah mulai aman, di bawah reruntuhan itulah sang kapten curcol bahwa cintanya sudah ditolak tiga kali oleh Kang Mo Yeon.
"Aku yakin sekarang dia pasti sedang khawatir memikirkanku," katanya penuh percaya diri sambil tersenyum simpul.
Dan ya, di episode ini semuanya berakhir manis dan bahagia meski ketegangan seolah tak pernah habis sampai tiga-per-empat durasinya. Sampai tanpa sengaja Kang Mo Yeon membuka aibnya sendiri dengan membiarkan ponselnya memutar musik secara acak ke loudspeaker yang ada di barak militer hingga Medi Cube.
"Kalau aku tahu aku akan mati seperti ini, harusnya aku memberitahu perasaanku yang sebenarnya padamu. Aku telah dicium oleh seorang laki-laki yang luar biasa dan aku tidak bisa melupakan itu." suara Kang Mo Yeon didengar oleh hampir semua yang ada di sana termasuk Yoo Shi Jin yang tersenyum bahagia.
Ikuti update Juragan Sinopsis setiap hari lewat Twitter di @Rujakdulit
crack 3/17/2016 08:21:00 PM Serial TV Bandung, Indonesia
Shi Jin bersyukur karena Mo Yeon tak terluka dan ia minta maaf karena balik tanpa pamit kemarin serta sekarang ia tidak bisa menemani Mo Yeon jadi ia ingin Mo Yeon bisa berhati-hati.
Bibir Mo Yeon sedari tadi bergetar menahan tangis mendengar kata-kata Shi JIn. sampai Shi Jin menyelesaikan kata-katanya, ia bisa menahannya dan bisa membalas perkataan Shi Jin, ia juga ingin Shi Jin untuk berhati-hati.
Lega mendengarsuara Mo Yeon, Shi Jin pergi mendahuluinya, kemudian Mo Yeon berjalan ke arah berlawanan.
Sersan Choi dan Shi Jin mengintip ke dalam reruntuhan tower, mereka memasang alat penangkap suara ke dalam reruntuhan dan ada tentara satu lagi yang bertugas mendengarkannya. Sersan Choi mulai berseru
“Apa ada orang di dalam? Jika ada, ketuklah tiga kali!”
Tapi tak tanggapan. Sersan Choi merasa mungkin dirinya keliru. Shi Jin tidak setuju karena jika kebanyakan pekerja shift sore bekerja di bagian tower menggunakan tangga untuk jalan keluar, maka disana pasti titik ‘search point’.
Dae Young datang melapor kalau mereka sudah memutus gas. Shi Jin bertanya bagaimana keadaan disana.
Mr. Jin menyela, ia mengatakan pada Shi Jin kalau bangunan disana (kantornya) 100 kali lebih baik keadaanya ketimbang tower yang runtuh, bangunan disana masih agak utuh dan puing reruntuhan yang menutupi Cuma setengah dari tower. Jadi Mr. Jim meminta mereka untuk mulai pencarian di kantornya.
“Tidak bisa karena kemungkinan ada runtuhan susulan disebabkan kondisi bangunan yang tidak stabil.” Tegas Dae Young.
Mr. Jin gak percaya dan tetap memaksa toh mungkin cuma beberapa reruntuhan gak akan banyak,,” Jika itu sangat menakutimu, bagaimana bisa kau menyelamatkan korban? Menjengkelkan!”
“Setelah gempa bumi, gedung yang masih berdiri itu lebih berbahaya. meskipun kelihatannya baik-baik saja dari luar tapi dalamnya tidak stabil karena goncangan kuat dari gemapa.” Jelas Dae Young kesal,
Lalu ia mengambil potongan besi dan memukulkannya pada tower yang roboh, hanya dipukul sedikit saja batu-batu kecil pada berjatuhan. Mr. Jin menjauh ketakutan, bahkan sampai berpegangan pada lengan tentara lain.
Dae Young melanjutkan kalau dengan peralatan yang akan mereka gunakan dapat menyebabkan keadaan lebih berbahaya.
Sersan Im yang bertugas mendengarkan alat mengatakan kalau di dalam ada signal dari korban, walaupun tidak jelas tapi ia yakin. Kemudian Shi Jin memerintahkannya untuk memasukkan kamera endoscopi.
Suara itu berasal dari anak buah manager Go yang memukulkan batu ke balok besi dan semakin lama semakin lemah karena tenaganya habis, anak buah ini menggantikan manager Go memberi sinyal karena tangan manager Go sudah lecet-lecet karena terus memukulkan batu ke balok besi. Manager Go berujar kalau sebagai anak muda kekuatan anak buahnya itu sangat lemah.
Si anak buah sudah kesakitan dan ingin cepat-cepat diselamatkan, seharusnya keselamatan adalah yang utama. Manager Go membenarkan, keselamatan adalah yang utama. Padahal ia pikir mereka sudah membangun bangunan kokoh, siapa yang menyangka kalau gempa akan terjadi? Tapi bagaimanapun juga ia menyuruh nak buahnya itu untuk menunggu sebenatr lagi karena pasti penyelamat sedang mencari mereka.
AKhirnya kesabaran mereka membuahkan hasil, mereka mendengar suara orang. Manager Go bertanya siapa mereka. Mereka adalah pekerja lapangan yang lain yang terperangkap di atas managar Go, mereka menginformasikan kalau penyelamat agar segera datang dan meminta managar Go untuk sabar menunggu.
Kamera sersan Im menangkap gambar para pekerja yang terperangkap. Mereka semua berteriak minta diselamatkan.
Di luar, Shi Jin dan yang lain berdiskusi untuk menghancurkan beton bangunan agar para pekerja bisa keluar. Mr. Jin kembali menyela, itu usulan yang tidak masuk akal karena bangaunan ini betonnya sangat kuat. Dae Young membenarkan, butuh waktu lebih dari 2 hari untuk menghancurkannya, jadi ia menyarankan untuk menggunakan cara lain.
“Apa yang kalian khawatirkan? Ada cara yang mudah. gunakan alat berat.” Kata Mr. Jin.
“Berapa kali sudah aku bilang bahwa tanah disini tidak kuat jadi akan membahayakan korban?!” benatak Dae Young.
Mr. Jin mengangkat tangan, lalu ia menunjuk gedung kantornya,,”kalian bilang tidak ada signal korban disana. jadi akan baik-baik saja kan jika menggunakan alat berat. AYolah mulai dari sana, kiita lakukan apapun yang kita bisa dengan cepat. Sudah ku bilang kalau ada dokumen penting disanan.”
“Apa kau menyuruh kami menyelamatkan kertas dan menunda menyelamatkan orang!” balas Shi Jin dengan nada tinggi.
Mr. Jin malah menggunakan jabatannya sebagai kepala manager jadi Shi Jin harus menuruti perintahnya. Shi Jin menjawab kalau kapten tim penyelamat mengambil alih area bencana dan itu adalah dirinya, lalu ia memerintahkan yang lain untuk menjauhkan Mr. Jin dari area bencana.
Tinggal lah Shi Jin dan Dae Young diskusi berdua, Shi Jin menyrankan untuk menggunaka airbags untuk mengangkat reruntuhan beton. Tapi jika hanya satu tidaka akan mampu. Shi Jin berencana untuk menggunakan 4 airbags secara langsung. Tapi mereka hanya punya satu pompa udara tak akan mampu untuk 4 langsung. Jadi alternative lain mereka menggunakan air untuk mengisi aibagsnya.
Dan mereka bekerja dengan rencana itu. tapi mereka tak tahu sampai kapan airbags akan mampu menahan beton jadi mereka harus bergegas.
Di tenda Mo Yeon menangani pasien yang parah, ia memasang pita merah dan menyuruh Ja Ae untuk membawa pasien itu ke medicube, namun masalahnya mereka tak punya mobil karena semua mobil terpakai, telepn juga belum bisa digunakan.
Kemudian Gi Beom datang membawawalkie-talkie pemberian Daniel dan Daniel juga membawa pasien ke medicube dan Gi Beom menginformasikan kalau Mo Yeon harus menggunakan channel no 3.
Daniel menghubungi Mo Yeon. Mo Yeon berterimakasih atas walkie-talkienya. Daniel yang sekarang ada di medicube tidak bisa menggunakan ruang operasi karena dihalangi dokter lain, ia minta Mo yeon untuk memberinya ijin untuk menggunakan ruang operasi. Mo Yeon pun membentak dokter itu untuk mengijinkan Daniel menggunakan ruang operasi. Daniel mengirim Ye hwa ke lokasi bencana untuk membantu.
Shi Jin mendengarkan percakapan mereka dari headsetnya dan ia tersenyum senang.
Pengisian airbags sudah hampir selesai. Mr. Jin kesana lagi, masih mengomentari rencana tak masuk akan para tentara karena tak ada yang tahu sampai kapan airbags akan bertahan, dan siapa juga yang mau merangkak ke dalam bangunan yang didangga airbags.
“Kami.” Jawab Shi Jin mantap.
Setelah pemasangan airbags selesai, Shi Jin dan Dae Young masuk ke dalam bangunan untuk mencari korban. Akhirnya satu per satu korban berhasil keluar dengan selamat.
Mo Yeon memeriksa salah satu korban yang tampak lemas. Korban itu berkata kalau ia baik-baik saja tapi ada satu korban lagi yang masih ada di dalam, ia mendengar kalau manager Go masih ada di dalam.
Shi Jin keluar untuk mengambil tali dan masuk lagi ke dalam. Mo Yeon melihatnya dengan khawatir.
Myeong Ju menangani pasien gawat, detak jantungnya 60/30, ia minta IVs pada Min Ji tapi mereka kehabisan. Untung Mo Yeon datang dan langsung memberikannya.
Pasien mulai tak sadarkan diri, detak jantungnya taka da dan taka da reaksi dari pupil matanya, Myeong Ju minta Min Ji untuk menyuntikkan sesuatu pada pasien dan ia akan bersiap untuk melakukan CPR, tapi Mo Yeon mendahuluinya. Tidak melakukan CPR tapi dengan memukul-mukul dada pasien secara langsung tapi hal itu lebih efektif karena detak jantung pasien cepat kembali.
Myeong Ju mengatakan diagnosisnya, pasien kemungkinan syok karena hemoperitoneum. Dan pasien butuh esegera dioperasi, ia meminta Mo Yeon agar mengirim pasien ke medicube. Mo Yeon mengatakan tidak bisa karena ruang operasi di medicube penuh.
“berapa lama dari sini ke markas pusat?” tanya Mo Yeon.
30 menit menggunakan helicopter, kawab Myeong Jud an ia menambahi kalau pasien tidak bisa menunggu lebih lama dari itu. Mo Yeon memutuskan untuk melakukan operasi di sana saja tapi di tempat yang lebih terang.
Myeong Ju tak setuju, ia tidak bisa mengoperasi pasien tanpa melakukan CT scan, jadi mereka tak tahu dimana letak pendarahannya.
“itulah alasan kita perlu melakukan laparotomy. Apa ad acara lain yang bisa kita lakukan?”
Myeong Ju masih keberatan, mau membuka perut pasien dengan lingkungan penuh debu semen yang jauh dari streril. Maka akan menyebabkan penyakit yang lainnya.
“Aku tanya apa ad acara lain yang bisa kita gunakan! Cepat putuskan, ini adalah pasienmu!” benatak Mo Yeon.
Myeong Ju pun tak punya pilihan lain, ia terpaksa melakukan operasi disana, lalu memerintahkan Min Ji untuk mengambilkannya betadine dan desinfectan serta peralatn operasi yang lain. min Ji pun segera bergerak.
Mo Yeon berkata kalau mereka harus memindahkan pasien, lalu ia memanggil Ye Hwa untuk membantu.
Gi Beom berkeliling membagikan walkie-talkie pada tim medis yang lain dan ketika ia akan memberikannya pada seorang suster ia malah tak sengaja menabrak kardus berisi obat-obatan sehingga semuanya jadi berantakan. Suster itu kesal dan menyuruh Gi Beom diam saja jika terluka (biar tak mengganggu yang lain). Gi Beom hanya bisa minta maaf.
Lalu Min Ji datang minta perlengkapan operasi dan betadine. Ia kaget melihat semuanya berantakan, ia bertanya, apa terjadi gempa lagi. Gi Beom menjelaskan kalau ia tak sengaja membuat kekacauan. Gi Beom berniat membatu tapi Min Ji mendorongnya menjauh. Lalu ia mengambil barang-barang yang diperlukan.
Gi Beom hanya bisa berdiri mematung di pojokan tenda.
Chi Hoon menangani pasein wanita yang kakinya terluka. Pasien itu menolak saat akan di suntuk padahal Chi Hoon sudah menjelaskan kalau itu hanya obat bius, Chi Hoon mengira kalau wanita itu takut jarum suntik. Bahkan wanita itu sampai menampik tangan Chi Hoon dan suntiknya jatuh.
Wanita itu menjelaskan sesuatu tapi ia gak paham apa. Lalu wanita itu mengeluarkan foto hasil USG. Chi Hoon akhirnya paham kalau wanita itu sedang hamil dan ingin melindungi bayinya dari obat-obatan yang berbahaya.
Akhirnya Chi Hoon tidak jadi membius dan langsung menarik kaki si wanita yang dislokasi setelah wanita itu setuju untuk Manahan sakit yang sangat sangat.
Wartawan datang, mereka mendatangi Gi Beom dan memintanya untuk menunjukkan lokasi bencana tapi Gi Beom gak paham Bahasa inggris, ia mengajak si wartawan ke ja Hae yang lagi membopong pasien, Ja Ae berkata kalau ia sibuk lalu meninggalkan mereka.
Lalu Dr. Sang Hyun datang. Gi Beom memintanya untuk meladeni si wartawan. Dr. Sang Hyun mengatakan dalam Bahasa inggris kalau Bahasa inggrisnya jelek jadi tak bisa banyak berkata-kata. Lalu walkie-talkie berbunyi dari medicube yang minta bantuan dokter untuk operasi, Dr. Sang Hyun langsung bergegas kesana.
Dr. Sang Hyun lalu masuk ke mobil si wartawan, ia berjanji akan melakukan wawancara jika wartawan mau membawanya ke medicube. Wartawan setuju.
GI Beom kagum dengan Dr. Sang Hyun. Kemudian ja Ae mendekat, ia menjelaskan kalau Dr. Sang Hyun memang pria tak berguna tapi dia adalah dokter yang hebat.
Lalu Gi Beom menjawan walkie-talkie yang membutuhkan bantuan darah AB.
Mo Yeon dan Myeong Ju melakukan operasi di lokasi bencana, Gi Beom di tes darahnya oleh Ye hwa dan benar darah Gi beom adalah AB maka ia langsung mendonorkan darahnya saat itu juga dibantu Ye Hwa.
Shi Jin datang menghampiri Mo Yeon, Mo Yeon mengira kalau Shi Jin terluka. Tapi bukan, ada orang lain yang terluka dan ia minta Mo Yeon untuk ikut dengannya, cepat karena darurat.
Mo Yeon mengenali manager Go, ia memberi manager Go suntikan penghilang rasa sakit. Mo Yeon bertanya, apa manager Go bisa merasakan kakinya. Manager Go mencoba menggerakkan kakinya tapi tidak bergerak.
“Tadi rasanya suakit tapi meliat wajah dokter semuanya hilang.” Canda Manager Go.
Mo Yeon membalas kalau ia senang mendengarnya.
Mo Yeon bertanya pada Shi Jin, sejak kapan kaki manager Go tertindih begitu. Shi Jin tak menjawab, ia mengatakan kalau Mo Yeon masih punya satu pasien lagi yang harus dilihat.
Mo Yeon memasang infus pada pasien yang tertusuk besi. Mo Yeon memintanya agar jangan bergerak, pasien itu masih beruntung karena besi yang menuduknya tak mengenai hatinya dan jika pasien terus bergerak kemungkinan bisa melukai tulang belakang.
“Apa aku akan meninggal?”
“Jika kau mencoba diam saja, kau tak akan meninggal.” Jawab Mo Yeon.
Mo Yeon mengatakan pada Shi Jin kalau pasien itu harus segera dibawa ke ruang operasi dan besinya jangan dicabut, ia menunjuk batasbesi yang harus dipotong. Shi Jin mengajaknya bicara sebentar. Mo Yeon menyuruhnya langsung saja. Shi Jin hanya ingin mereka berdua yang bicara.
Mereke punya masalah, masalahnya adalah reruntuhan bangunan yang menimpa Manager Go berhubungan dengan besi yang menancap di tubuh pasien yang satunya. Jika reruntuhan diangkat duluan maka pasien yang satunya akan tertusuk lebih dalam, artinya besinya akan lebih menusuk ke depan. dan jika besinya dipotong duluan maka reruntuhan tambahan akan menimpa manager Go.
“Maksudmu adalah.. menyelamatnya satu dan membunuh yang lain?” tanya Mo Yeon.
“tidak ada cara lain.”
“Aku juga tidak punya pilihan lain.”
Shi Jin menjelaskan kalau dalam situasi seperti ini ia harus mengikuti aturan penyelamatan. Dokter yang menentukan siapa pasien yang peluang hidupnya lebih besar dan mereka akan menyelamatkan pasien tersebut.
“Kau memintaku untuk memutuskan? Siapa yang akan dibnuh dan siapa yang akan diselamatkan?”
“Iya. Itu yang harus… Kau lakukan.”
Mo Yeon bingung. Shi Jin mengatakan kalau mereka harus menyiapkan peralatan untuk menyelamatkan satu orang dan membutuhkan waktu 10 menit.
Mo Yeon bingung. Shi Jin mengatakan kalau mereka harus menyiapkan peralatan untuk menyelamatkan satu orang dan membutuhkan waktu 10 menit.
Shi Jin menjelaskan pada sersan Choi kalau Mo Yeon meminta waktu sebagai dokter dan memerintahkan pada sersan Choi untuk melanjutkan tugas mereka untuk menyiapkan peralatan. Sersan Choi pun bergerak.
Mr. Jin tiba-tiba muncul, ia masih tak percaya Shi Jin masih berdiri saja, bukankah mereka bilang kalau diantara 2 korban hanya memungkinkan untuk menyelamatkan salah satunya. Terus kenapa lama sekali. Lagi-lagi ia minta Shi Jin untuk masuk ke kantornya dan mengambil dokumen.
“Kita hanya mengikuti prosedur penyelamatan.” Jawab Shi Jin lalu pergi.
Mr. Jin menghalanginya. Mr. Jin menjelaskan kalau dokumen tersebut adalah kontrak antara pihak Korea dan Urk untuk pendirian tower tersebut jadi itu adalah asset negara.
“Kau ini tentara ka? Tidakkah Seharusnya mementingkan negaramu dulu? Kenapa kau sangat peduli pada nyawa dua orang pekerja manual?”
“Yaa! Negara? Apa sebenarnya negara itu? Negara kita menempatkan kehidupan dan keselamatan warganya di poin pertama. Itu artinya… ketika Kunyuk sepertimu dalam bahaya, kita akan melakukan apapun untuk menyelamatkanmu. Bagi tentara, tidak ada yang lebih penting daripada menyelamatkan nyawa rakyat Korea. Jika kau butuh dokumenmu… ” berhenti sebenat untuk mengambil sekop, lalu memberikannya pada Mr. Jin,,”Pergi ambil sendiri.”
Mr. Jin membalasnya dengan tertawa, lalu membuang sekop pemberian Shi Jin. ia mengingatkan kalau Shi Jin sudah membuat kesalahan besar.
“Gomawo.. Pegi sana!” balas Shi Jin.
Lalu seseorang berteriak hati-hati.
Shi Jin melindungi Mr. Jin dari pipa dan reruntuhan bangunan yang jatuh tiba-tiba dari atas mereka. Jadi ia yang kena jatuhan pipa dan runtuhan bangunan tersebut.
Shi Jin menengok kebawah, bertanya apa ada yang terluka. Salah satu tentara mengatakan kalau manager Go baik-baik saja. Tapi ada masalah lain, kabel listrik yang terbakar jadi kaya kembang api, Shi Jin menembak ke reruntuhan bangunan sehingga reruntuhan itu jatuh tepat ke kabel yang terbakar sehingga percikan apinya bisa terpadamkan.
Mr. Jin menutup telinganya kaget + ketakutan. Shi Jin meletakkan kembali pistolnya. Ia menanyakan keadaa Mr Jin. dengan gagap Mr. Jin mengatakan kalau ia baik-baik saja.
Shi Jin berjalan ke bawah dan darah berceceran dari dirinya mengenai Mr. Jin. Mr. Jin melihat kea rah Shi Jin yang ternyata bahunya terluka.
Mo Yeon dibantu Ja Ae mengamati kondidi kaki manager Go yang tertindih reruntuhan bangunan dan sepertinya tak ada kabar baik. Mo Yeon menjelaskan kalau kaki Manager Go nanti pasti terasa sangat sakit saat reruntuhan yang menindih kakinya diangkat dan tak ada obat penghilang rasa sakit yang bisa menahannya.
“Dia mempunyai tiga anak. Satu cowok dan dua cewek.” Kata Manager Go.
“Apa?”
“Dia yang di sana (sambil melirik kea rah anak buahnya). Aku tidak tahu banyak, tapi kau tidak bisa menyelamatkan kami berdua, kan?”
Mo Yeon akan menangis. Manager Go tidak apa-apa, dia sudah 30 tahun bekerja di bagian konstruksi jadi ia bisa sedikit peka dari melihat situasi.
“kami akan berusaha sebaik mungkin.” Balas Mo Yeon.
Manager Go mengerti, ia tersenyum, ia merasa beruntung bisa terbaring disana dan bisa menatap ke langit biru.. ia sudah merasa uangnya cukup untuk menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi. Mo Yeon mulai meneteskan airmata.
Pasien satu lagi minta penghilang rasa sakit lebih karena sakitnya sampai mau gila rasanya. Mo Yeon mendekatinya, tak ada lagi penahan rasa sakit karena nanti pasien iru butuh di anestesi untuk operasi. Mo Yeon menyueuh pasien untuk mengenggam tangannya sendiri,
Si pasien senang dan menggerak-gerakkan tangannya,,”Apa aku bisa hidup? Please, save me, please… aku tidak akan bergerak sedikitpun, aku janji.”
“Good” balas Mo Yeon.
Myeong Ju melanjutkan operasinya dibantu Min Ji dan satu suster lain. Gi Beom menyumbangkan darahnya langsung. Myeong Ju menyuruh Min Ji untuk menyediakan makanan bagi Gi Beom, jika pasiennya selamat.
"Apa dia bisa selamat?" tanya Gi Beom
"Bukannya kau sedang mencoba menyelamatkannya?" balas Myeong Ju.
"Aku yang menyelamatkannya? Prajurit Kim Gi Bum. Apa maksudmu, akulah yang bisa menyelamatkan dia? Apa aku bisa memberitahu ini pada Sersan Seo?"
"Tolong antri. Karena akulah yang akan duluan menemuinya."
Gi Beom pun diam.
Ye Hwa mengambil darah para wartawan. Wartawan yang satu protes, mereka datang ke Urk bukan untuk menyumbang darah. Ye hwa menjawab mereka yang terluka juga tidak datang ke Urk dengan tujuan agar terluka.
"Tapi, kau akan menepati janjimu, kan? " tanya si wartawan.
"Tentu saja! Sebagai janji darah, A) Kepala Rumah Sakit Haesung. B) Kepala Pusat Listrik Mohuru. C) Kepala Unit Taebaek. Kau ingin mewawancarai siapa?"
"D) Daniel Spencer" jawab semua wartawan bebarengan.
Ye Hwa menegaskan kalau Daniel taka da dalam daftar pilihan. Tapi bagi wartawan akan bagus jika mereka bisa mewawancarai orang yang berpengalaman dengan tempat bencana. Aku tahu, mereka pikir Daniel sangat terkenal dan cerdas, tapi semuanya tentang penampilan. dan Karena itulah para wartawan menginginkan Daniel, Tak hanya bisa bicara, tapi dia juga tampan.
"Dasar reporter majalah menyebalkan!" dalam bahasa korea.
Dae Young masuk ke dalam bangunan, dia memimpin di depan, dia terus memperingatkan anak buahnya kalau kondisi bangunan tidak stabil jadi harus extra hati-hati. Dan tiba-tiba Dae Young menginjak lantai yang rapuh, ia tererosok jatuh ke lantai bawah.
Gi Beom mendengar dari walkie-talkie kalau dae Yeong menghilang, ia ingin ikut mencari dan meminta Myeong Ju untuk melepaskan perbannya.
"Prajurit Kim, duduklah!" Perintah Myeong Ju.
"Tapi.."
"Aku bilang, duduk! Apa kau mau membunuh pasien ini?"
Lalu Myeong Ju melanjutkan jahitannya. Dae Young melapor kalau ia baik-baik saja, lukanya tak parah karena ia jatuh dari jarak rendah, semuanya terdengar dari walkie-talkie Gi Beom.
Gi Beom memberitahu Myeong Ju kalau Dae Young baik-baik saja tapi Myeong Ju malah menyuruhnya diam karena itu mengganggunya.
Mo Yeon mencoba membersihkan tangannya dari darah tanpa air. Shi Jin mendekat, mengatakan kalau mereka sudah menyiapkan semuanya dan bertanya apa Mo Yeon sudah memutuskan?
Mo Yeon masih menunduk, ia menjelaskan kalau otot kaki manager Go mulai mengalamai nekrosis, saat beton diangkat, mungkin manager Go akan mengalami sindrom traumatis. Dan pekerja local satunya, besi memang mencegah pendarahannya, tapi jika besi dihilangkan akan terjadi pendarahan yang sangat parah.
Mo Yeon mengangkat kepalanya menghadap Shi Jin, dalam situasi seperti ini, ia ingin tahu siapa yang ingin Shi Jin selamatkan. Shi Jin kembali memberi kuasa itu pada Mo Yeon karena Mo Yeon yang sudah mendiagnosis jadi Mo Yeon bisa memutuskan dengan tepat.
"Tapi, kau lebih berpengalaman daripada aku. Mungkin, kau bisa membuat keputusan yang terbaik." Jelas Mo Yeon.
"Terbaik? Apa tindakan seperti ini yang kau bilang terbaik? Dalam gerakan penyelamatan, tak ada yang dikatakan dengan terbaik. Kita hanya perlu menyelesaikan masalah yang ada di depan kita."
Mo Yeon juga tahu itu, tapi... Sepanjang hari ini, ia menyelamtkan pasien tanpan protokol jelas. ia tak tahu, apakah tindakannya ini benar atau...
"Tindakanmu sudah benar. Dalam situasi seperti ini, kau hanya perlu melakukan apa yang kau bisa, ataukah hanya diam saja dan membiarkan mereka mati. Pilih salah satu. Tak ada waktu untuk merengek. Kami tak memintamu untuk membuat sebuah keajaiban. Kami tak mengharapkan dokter sempurna yang bisa menemukan anti virus, tapi, kami hanya mengharapk diagnosis dari seorang dokter. Jadi, tolong beritahu aku hasil diagnosismu sebagai seorang dokter."
"Urutan penyelamatannya..."
setelah itu kita melihat kalau pasien dengan besi tertancap dilarikan ke ruang operasi medicube.
Mo Yeon memberikan aba-aba, Dadanya tertancap besi, tapi ia tak yakin apakah tulang belakangnya juga terluka. Tapi, respon tubuhnya masih bagus. Sediakan antibiotik dan lakukan X-ray.
"Aku sudah tahu. Kau sudah memberitahuku tadi." balas Dr. Sang Hyun.
Dr. Sang Hyun akan mengoperasinya dan ia menyuruh Mo Yeon minum sedikit. Mo Yeon tidak mau, ia yang akan mengoperasinya. lalu bertanya, Portable x-ray sudah siap, 'kan?
"Film-nya sudah habis. Sterilisasi juga sudah rusak. Kita kekurangan banyak sekarang." jawab Dr. Sang Hyun.
"Kita harus tetap melakukannya dengan alat seadanya. Sunbae, kau harus menemaniku, aku tak bisa melakukannya sendiri."
Lalu mereka membawa pasien masuk ke ruang operasi.
Anestesi sudah selesai. Mo Yeon mengatakan kalau pasien tidak akan meninggalkarena mereka akan mengoperasinya dengan cepat dan akurat. Lalu dimulailah proses operasi.
Foto korban yang meninggal diambil satu persatu sebelum dimasukkan ke kantong jenazah. Termasuk foto manager Go.
Shi Jin membuka dompet manager Go, disana ada foto keluarganya. Shi Jin meletakkan dompet tersebut di dada manager Go dan menahannya dengan tangan manager Go. Lalu kantong jenazah akan ditutup oleh tentara yang lain. Shi Jin memberi hormat pada manager Go.
Ye Hwa mengambil jam dinding yang terjatuh akibat gempa, jamnya mati. Daniel merebutnya lalu memperbaikinya, tak lama kemudian jamnya sudah bisa jalan lagi.
Pasien Myeong Ju pun berhasil melewati operasi dan tanda vitalnya bagus. Myung Ju menyampaikan kalau Gi Beum sudah bekerja dengan baik. Lalu Gi Beum menghormat padanya dan dibalasnya.
Ketua Park membawa pasukan baru ke lokasi bencana, ia mengatakan kalau Shi Jin dan tim-nya sudah bekerja keras, sekarang saatnya mereka untuk istirahat dan pekerjaan mereka akan digantikan oleh tentara yang baru datang.
Dan mereka pun kembali ke markas Mowuru naik truk.
Ayah Shi Jin menemui Ayah Myeong Ju. Ayah Myeong Ju menjelaskan kalau mereka (tim di Urk) sedang dalam tugas penyelamatan dan tim medis taka da yang terluka termasuk Myeong Ju.
Ayah Myeong Jut ahu kalau ayah Shi Jin pasti mengkhawatirkan puteranya makanya ia meminta ayah Shi Jin untuk datang. Tapi ayah Shi Jin tak khawatir karena mamang itulah tugas tentara.
"Aku malu mengatakan ini, tapi... aku bisa sedikit tenang karena Kapten Yoo bisa menjaga putriku. Aku sangat mengandalkan Kapten Yoo. Si Jin mampu mendapatkan 4 bintang, aku sangat mengharapkan hal itu."
"Aku tak yakin, apakah dia bisa."
"Dia adalah prajurit yang sangat mengagumkan. Banyak tentara yang mengidolakan dia, baik itu bawahan maupun atasannya."
"Si Jin sepertinya sangat beruntung."
Pindah ke RS Haesung di Seuol. Ketua Han menyampaikan pada yang lain kalau tim medis di Urk tak ada yang terluka dan sekarang mereka sedang melakukan penyelamatan, jadi tak perlu ada yang dikhawatirkan.
Hee Eun langsung terduduk, ia lega dan bersyukur. Ibu mertuanya khawatir, tapi ia memastikan kalau ia baik-baik saja.
Ji Soo bertanya kapan tim medis akan kembali ke korea. Ketua Han menjawab kalau Pesawat akan dikirim setelah kondisi bandara kembali normal.
"Kapan? Apa kau bisa menelepon Chi Hoon? Aku harus mendengar suaranya agar aku bisa kembali tenang." perintah Ibu Chi Hoon.
Ketua Han menjelaskan kalau Panggilan pribadi masih belum bisa dilakukan. Panggilan hanya bisa dilakukan melalui telepon satelit. dan Sekarang, teleponnya..
"Yaa! Aku memiliki saham besar dalam satelit itu. Sambungkan aku, cepat!"
Ji Soo berjalan dengan Hee Eun. Mereka membahas soal ibu mertua Hee Eun yang memanggil Ketua Han dengan “Yaa!”. Hee Eun menjawab, Karena tanah rumah sakit memang milik keluarha Chi Hoon.
Ji Soo langsung menghentikan kursi rodanya, ia memegang tangan Hee Eun,,” Nyonya, aku tak pernah membuatmu marah, 'kan?”
Hee Eun hanya diam dengan muka penuh tanya, ia tak tahu apa maksudnya.
Chi Hoon merenung sendirian,,
"Aku yakin dia akan meninggal." Gumamnya.
Lalu ia memeluk kedua lututnya, menangis..
Dr. Sang Hyun menghampiri Chi Hoon, ia akan merokok. Chi Hoon bertanya apa pasiennya masih bertahan. Dr. Sang Hyun mengiyakan untuk saat ini. dr. Sang Hyun menerogoh sakunya mencari sesuatu tapi tak ketemu lalu ia menatap Chi Hoon.
“Aku tak punya korek.” Jawab Chi Hoon.
“Aku hanya mau bertanya, apa kau baik-baik saja?”
Dr. Sang Hyun melihat Chi Hoon yang masih memegang pita hitam.
“Aigoo.. Pertanyaan macam apa itu, ya?” tanya Dr. Sang Hyun.
Chi Hoon minta sebatang rokok. Tapi Dr. Sang Hyun melarangnya merokok karena dokter tak boleh merokok. Lalu Dr, Sang Hyun menyenggol lengan Chi Hoon. Chi Hoon membalasnya dengan senyum.
Mr. Jin datang ke medicube, ia minta bertemu dokter. Min Ji sudah mencoba menghalanginya tapi Mr. Jin tetap memaksa masuk, padahal Medicube sedang sibuk bangets. Akhirnya Mr. Jin melihat Ja Ae, ia tahu pasti Ja Ae mengenalnya.
Mr. Jin mengatakan kalau ia berdiri sepanjang hari jadi guadarahnya menurun, lalu ia berbaring minta disuntik glukosa atau vitamin, ia juga minta dibawakan bawang putih.
Min Ji menjelaskan pada Ja Ae kalau ia sudah melarang Mr. Jin tai gak mempan. Ja Ae mengerti dan menyuruh Min Ji untuk kembali bekerja. Ja Ae berhubungan dengan walkie-talkienya.
"Ini, aku dari bangsal. Ada pasien yang sedang sekarang membutuhkan vitamin. Jika ada dokter yang sedang tidak ada kerjaan sekarang, tolong ke sini dan obati pasien ini, over."
"Benarkah? Bagaimana kondisi pasien itu?" Jawab Dr. Sang Hyun dari seberang.
"Sepertinya, dia membutuhkan pengobatan pada mata. Mungkin dia mau buta, karena dia tak bisa melihat keadaan gawat pasien lainnya, dan dia terus merengsek sedang sekarat. Mulutnya sangat sehat.
"Dia hanya pasien RSJ. Over."
Mr. Jin bangun, ia berdiri lalu merebut walkie-talkie Ja Ae lalu melemparnya ke ranjang yang ia gunakan untuk berbaring tadi. ia bertanya dengan Bahasa informal, siapa nama Ja Ae.
“Ha Ja Ae. Dan kau, siapa namamu tadi?” balas Ja Ae juga dengan Bahasa informal.
Mr. Jin tak terima Ja Ae bicara informal padanya. Ja Ae menjawab kalau ia pikir Mr. Jin mau berteman karena Mr. Jin duluan yang bicara informal padanya. Lalu Ja Ae menanyakan berapa umur Mr. Jin, karena mereka sudah tahu nama masing-masing.
"Yang benar saja. Kau! Tunggu dan lihat saja.”
"Ya, ya, ya. Aku akan menunggunya." jawab Ja Ae kembali menggunakan Bahasa formal.
lalu ia pergi mengajak Min Ji untuk bekerja karena alat strerelisasinya rusak.
Dae Young dan Shi Jin keluar dari gudang penyumpan makanan dan ternyata makanan mereka tinggal sedikit, mereka bingung bagaimana memberi makan semuanya sekarang.
Kemudian si sexy dari restaurant datang membawa makanan untuk 100 orang.
“Sempurna. Kau memang yang terbaik.” Puji Dae Young.
Shi Jin membangatakan akan membeli menuman si sexy untuk 100 orang sebagai balasannya dan tentu saja dae Young yang mentraktir karena gajinya dipotong. Dae Young hanya bisa memelototinya.
Para tentara pun menikmati makanan pemberian si sexy.
"Kalian sudah berusaha keras dan tak tidur selama 2 hari. Kami sudah menghubungi orang tua kalian, jadi jangan khawatir. Saat, jaringan kembali normal, kita akan melakukan video-call, jadi bersabarlah sedikit."
"Ya, kami mengerti." jawab semuanya.
Shi Jin manmbahi kalau mereka akan tetap melakukan gerakan penyelamatan besok. Dan gerakan itu akan sangat sulit, jadi, setelah selesai makan, langsung bisa pergi tidur. tak perlu memikirkan apapun saat ini, dan tidurlah saja. hanya perlu mengikuti perintah. Karena ia akan selalu siap memberikan perintah kapanpun.
mereka semua mengerti.
Dae Young mencuci mukanya, ia memijit tangannya yang sakit akibat jatuh tadi. Myeong Ju muncul tiba-tiba mengambil handuk di leher Dae Young untuk membantunya mengelap muka.
"Kau datang ke sini. Apakah karena atas keinginan sendiri ataukah perintah ayahku?" tanya Myeong Ju.
"Tanggung jawabku adalah bekerja di tempat yang paling berbahaya.
Myeong Ju tak tahu kenapa Dae Young bisa memutuskan untuk datang. Tapi, yang perlu Dae Young tahu, ia tak suka sikap Dae Young ini.
"Telepon dia (Ayah Myeong Ju). Dia pasti sangat khawatir." pinta Dae Young.
"Bagaimana denganmu? Bagaimana jika kau terluka?"
"Maaf... karena aku selalu menghindarimu."
"Lalu, kenapa kau tak menggenggam tanganku?"
tapi bukan genggaman yang ia dapat, melainkan pelukan hangat dari Dae Young.
Ja Ae sedang merebus peralatan operasi karena alat sterilnya rusak. Dr. Sang Hyun datang untuk menggantikannya. Ia bertanya, apa Ja Ae gak ketakutan?
"Sudah kubilang, 'kan? Kita harusnya lari saat hari pertama sampai di sini. Aku bisa menggunakan anak dan juga istriku sebagai alasan." lanjut Dr. Sang Hyun.
"Kau bisa saja kabur. Kenapa aku bertahan di sini?"
"Bagaimana denganmu?"
Lalu Dr. Sang Hyun minta Ja Ae mengulagi angka 1030. itu adalah password notebooknya. Jika ia mati di sini, ia ingin Ja Ae membuka drive C di notebook-nya Dan cari dokumen rumah sakit, dan cari lagi folder zip. kemdian hapus folder itu. ia minta meminta bantuan Ja Ae sebagai teman.
Ja Ae tanya, folder apa itu.. tapi kemudian ia ingat dan menyuruh Dr. Sang Hyun untuk segera menghapusnya. Dr. Sang Hyun tak bisa sebelum ia mati.
Mereka selesai. Dr. Sang Hyun mematikan apinya dan berjalan masuk. Ja Ae memukulinya sambil jalan menyuruhnya untuk segera menghapus folder tersebut.
"Kau ini! Dasar jorok! Jorok!" kata Ja Ae.
Mo Yeon melakukan cek pada pasien. Pertama pasien besi yang baru saja dioperasi. Dr Sang Hyun menjelaskan kalau pasiennya belum sadar, mungkin mereka bisa mengetahui hasilnya besok.
Kedua, pasien yang hampir meninggal di depan pembangkit listrik. Dokter yang merawatnya mengatakan kalau pasien itu sudah sadar. Mo Yeon mengeceknya kemudian mengganti pita merah menjadi hijau karena keadaan si pasien sudah semakin membaik.
Ketiga, pasiennya Chi Hoon, seorang ibu hamil. Chi Hoon menjelaskan kalau ibu itu mengalami fraktur tibialis dank arena dia sedang hamil maka Chi Hoon mengobatinya tanpa anestesi, tapi walaupun sakit si ibu bisa menahannya.
Mo Yeon memeriksa kondisi bayi dan berkata kalau bayinya sangat kuat. Tapi perhatian Mo Yeon tertuju pada ponsel Chi Hoon yang diletakkan disebelah ubu tadi.
"Itu adalah musik klasik kesukaanku. Aku khawatir jika bayinya takut." jelasChi Hoon.
"Kau sudah menjadi dokter dan juga ayah sesungguhnya sekarang."
Semua juga kagum dengan Chi Hoon.
Mo Yeon melihat pasien yang meminjamkan sepatu padanya. Mo Yeon mendekatinya dan mengembalikan sepatu itu.
"Aku sudah memakainya. Terima kasih."
pasien membalasnya dengan senyum.
Mo Yeon menyalakan lilin sebagai penghormatan untuk korban yang meninggal. Total korban yang meninggal adalah 18 orang dan yang terluka 41 orang.
Lalu Mo Yeon menujuke arah pembangkit listrik yang runtuh. Shi Jin muncul dibelakangnya.
Mo Yeon membayangkan semua pasiennya sebelum kejadian, pasien yang tertusuk besi serta yang meminjaminya sepatu bertugas untuk mengangkat semen.
Kemudian si Ibu hamil datang untuk mengirim makanan pada suaminya.
Dan yang terakhir dilihatnya adalah manager Go yang sedang menghukum priamuda yang kerjaannya Cuma tidur.
“Dokter. Kau sudah bekerja keras.” Ucap manager Go lalu menyunggingkan senyum untuk Mo Yeon.
Mo Yeon menangis tersedu. Shi jin menatapnya dari belakang.
Kemudian seoarng tentara menghampiri Shi Jin. ia bertanya apa yang Shi Jin butuhkan. Shi Jin menjawab kalau ia hanya lihat-lihat saja.
Tentara itu melihat bahu Shi Jin berdarah. Shi Jin meminta bantuannya untuk memeriksa bahunya.
"Anda bisa menahan sakitnya? Sepertinya harus dijahit." ujar si tentara.
"Pantas saja, bahuku sangat sakit."
Tentara akan memanggilkan tim medis tapi Shi Jin melarangnya karena ia akan pergi sendiri.
Kemudian Mo Yeon datang, ia minta Shi Jin mengikutinya.
Mo Yeon mulai menjahit luka Shi Jin. ia bertanya, bagaimana Shi Jin bisa terluka. Shi Jin menjawab ia terluka saat penyelamatan reruntuhan tadi. Mo Yeon tersenyum.
“Aku baik-baik saja.” Ujar Mo Yeon.
“Kau mendengarnya? Aku bertanya sangat pelan tadi.”
“Ya. "Pelan" yang "keras".”
Padahal Shi Jin tadi gak nanya apa-apa.
Shi Jin senang Mo Yeon bisa ada di sana. Ia berterimakasih pada Mo Yeon yang mau berjuang di sana bersamanya.
"Aku juga, terima kasih, Kapten." balas Mo Yeon.
Shi Jin tak berniat jahat pada Mo Yeon tadi. Mo Yeon tahu hal itu. SHi Jin penasaran, kok Mo Yeon tahu
"Menurutmu sudah berapa tahun aku menjadi dokter? Seseorang yang melihat lebih banyak kematian dari seorang tentara adalah seorang dokter yang memegang pisau." jelas Mo Yeon
Jika kata-katanya tadi tidak berguna, Shi Jin menyuruh Mo Yeon untuk melupakannya saja. Tapi... ia sungguh tak ingin Mo Yeon terluka. Itulah yang ia rasakan.
"Kalau begitu, tak perlu menyemangatiku lagi, dan kau bisa melakukan keahlianmu saja, Kapten."
"Keahilianku? Apa maksudmu?"
"Melawak. Karena sepertinya, aku membutuhkan lawakanmu sekarang ini."
Shi Jin berkata kalau Mo Yeon sangat cantik sekarang. Mo Yeon membalas kalau Shi Jin tak sedang melihatnya sekarang. Shi Jin sudah melihat Mo Yeon tadi, Mo Yeon selalu saja cantik.
"Matamu itu bagus sekali." balas Mo Yeon.
"Aku hanya bercanda."
Mo Yeon tersenyum. ia sudah selesai menjahit luka Shi Jin.
"Aku sangat merindukanmu."
Mo Yeon membeku,
Shi Jin melanjutkan,, "Apapun yang aku lakukan, aku selalu saja memikirkanmu. Aku memaksa diriku, aku berusaha keras. Aku minum dan mencoba semuanyanya. Tapi, percuma karena aku masih merindukanmu. Apa kau tak menyangka aku akan mengatakan ini? Kalau begitu, dengarkan aku. Karena aku sedang tidak bercanda sekarang."
Bibir Mo Yeon sedari tadi bergetar menahan tangis mendengar kata-kata Shi JIn. sampai Shi Jin menyelesaikan kata-katanya, ia bisa menahannya dan bisa membalas perkataan Shi Jin, ia juga ingin Shi Jin untuk berhati-hati.
Lega mendengarsuara Mo Yeon, Shi Jin pergi mendahuluinya, kemudian Mo Yeon berjalan ke arah berlawanan.
Sersan Choi dan Shi Jin mengintip ke dalam reruntuhan tower, mereka memasang alat penangkap suara ke dalam reruntuhan dan ada tentara satu lagi yang bertugas mendengarkannya. Sersan Choi mulai berseru
“Apa ada orang di dalam? Jika ada, ketuklah tiga kali!”
Tapi tak tanggapan. Sersan Choi merasa mungkin dirinya keliru. Shi Jin tidak setuju karena jika kebanyakan pekerja shift sore bekerja di bagian tower menggunakan tangga untuk jalan keluar, maka disana pasti titik ‘search point’.
Dae Young datang melapor kalau mereka sudah memutus gas. Shi Jin bertanya bagaimana keadaan disana.
Mr. Jin menyela, ia mengatakan pada Shi Jin kalau bangunan disana (kantornya) 100 kali lebih baik keadaanya ketimbang tower yang runtuh, bangunan disana masih agak utuh dan puing reruntuhan yang menutupi Cuma setengah dari tower. Jadi Mr. Jim meminta mereka untuk mulai pencarian di kantornya.
“Tidak bisa karena kemungkinan ada runtuhan susulan disebabkan kondisi bangunan yang tidak stabil.” Tegas Dae Young.
Mr. Jin gak percaya dan tetap memaksa toh mungkin cuma beberapa reruntuhan gak akan banyak,,” Jika itu sangat menakutimu, bagaimana bisa kau menyelamatkan korban? Menjengkelkan!”
“Setelah gempa bumi, gedung yang masih berdiri itu lebih berbahaya. meskipun kelihatannya baik-baik saja dari luar tapi dalamnya tidak stabil karena goncangan kuat dari gemapa.” Jelas Dae Young kesal,
Lalu ia mengambil potongan besi dan memukulkannya pada tower yang roboh, hanya dipukul sedikit saja batu-batu kecil pada berjatuhan. Mr. Jin menjauh ketakutan, bahkan sampai berpegangan pada lengan tentara lain.
Dae Young melanjutkan kalau dengan peralatan yang akan mereka gunakan dapat menyebabkan keadaan lebih berbahaya.
Sersan Im yang bertugas mendengarkan alat mengatakan kalau di dalam ada signal dari korban, walaupun tidak jelas tapi ia yakin. Kemudian Shi Jin memerintahkannya untuk memasukkan kamera endoscopi.
Suara itu berasal dari anak buah manager Go yang memukulkan batu ke balok besi dan semakin lama semakin lemah karena tenaganya habis, anak buah ini menggantikan manager Go memberi sinyal karena tangan manager Go sudah lecet-lecet karena terus memukulkan batu ke balok besi. Manager Go berujar kalau sebagai anak muda kekuatan anak buahnya itu sangat lemah.
Si anak buah sudah kesakitan dan ingin cepat-cepat diselamatkan, seharusnya keselamatan adalah yang utama. Manager Go membenarkan, keselamatan adalah yang utama. Padahal ia pikir mereka sudah membangun bangunan kokoh, siapa yang menyangka kalau gempa akan terjadi? Tapi bagaimanapun juga ia menyuruh nak buahnya itu untuk menunggu sebenatr lagi karena pasti penyelamat sedang mencari mereka.
AKhirnya kesabaran mereka membuahkan hasil, mereka mendengar suara orang. Manager Go bertanya siapa mereka. Mereka adalah pekerja lapangan yang lain yang terperangkap di atas managar Go, mereka menginformasikan kalau penyelamat agar segera datang dan meminta managar Go untuk sabar menunggu.
Kamera sersan Im menangkap gambar para pekerja yang terperangkap. Mereka semua berteriak minta diselamatkan.
Di luar, Shi Jin dan yang lain berdiskusi untuk menghancurkan beton bangunan agar para pekerja bisa keluar. Mr. Jin kembali menyela, itu usulan yang tidak masuk akal karena bangaunan ini betonnya sangat kuat. Dae Young membenarkan, butuh waktu lebih dari 2 hari untuk menghancurkannya, jadi ia menyarankan untuk menggunakan cara lain.
“Apa yang kalian khawatirkan? Ada cara yang mudah. gunakan alat berat.” Kata Mr. Jin.
“Berapa kali sudah aku bilang bahwa tanah disini tidak kuat jadi akan membahayakan korban?!” benatak Dae Young.
Mr. Jin mengangkat tangan, lalu ia menunjuk gedung kantornya,,”kalian bilang tidak ada signal korban disana. jadi akan baik-baik saja kan jika menggunakan alat berat. AYolah mulai dari sana, kiita lakukan apapun yang kita bisa dengan cepat. Sudah ku bilang kalau ada dokumen penting disanan.”
“Apa kau menyuruh kami menyelamatkan kertas dan menunda menyelamatkan orang!” balas Shi Jin dengan nada tinggi.
Mr. Jin malah menggunakan jabatannya sebagai kepala manager jadi Shi Jin harus menuruti perintahnya. Shi Jin menjawab kalau kapten tim penyelamat mengambil alih area bencana dan itu adalah dirinya, lalu ia memerintahkan yang lain untuk menjauhkan Mr. Jin dari area bencana.
Tinggal lah Shi Jin dan Dae Young diskusi berdua, Shi Jin menyrankan untuk menggunaka airbags untuk mengangkat reruntuhan beton. Tapi jika hanya satu tidaka akan mampu. Shi Jin berencana untuk menggunakan 4 airbags secara langsung. Tapi mereka hanya punya satu pompa udara tak akan mampu untuk 4 langsung. Jadi alternative lain mereka menggunakan air untuk mengisi aibagsnya.
Dan mereka bekerja dengan rencana itu. tapi mereka tak tahu sampai kapan airbags akan mampu menahan beton jadi mereka harus bergegas.
Di tenda Mo Yeon menangani pasien yang parah, ia memasang pita merah dan menyuruh Ja Ae untuk membawa pasien itu ke medicube, namun masalahnya mereka tak punya mobil karena semua mobil terpakai, telepn juga belum bisa digunakan.
Kemudian Gi Beom datang membawawalkie-talkie pemberian Daniel dan Daniel juga membawa pasien ke medicube dan Gi Beom menginformasikan kalau Mo Yeon harus menggunakan channel no 3.
Daniel menghubungi Mo Yeon. Mo Yeon berterimakasih atas walkie-talkienya. Daniel yang sekarang ada di medicube tidak bisa menggunakan ruang operasi karena dihalangi dokter lain, ia minta Mo yeon untuk memberinya ijin untuk menggunakan ruang operasi. Mo Yeon pun membentak dokter itu untuk mengijinkan Daniel menggunakan ruang operasi. Daniel mengirim Ye hwa ke lokasi bencana untuk membantu.
Shi Jin mendengarkan percakapan mereka dari headsetnya dan ia tersenyum senang.
Pengisian airbags sudah hampir selesai. Mr. Jin kesana lagi, masih mengomentari rencana tak masuk akan para tentara karena tak ada yang tahu sampai kapan airbags akan bertahan, dan siapa juga yang mau merangkak ke dalam bangunan yang didangga airbags.
“Kami.” Jawab Shi Jin mantap.
Setelah pemasangan airbags selesai, Shi Jin dan Dae Young masuk ke dalam bangunan untuk mencari korban. Akhirnya satu per satu korban berhasil keluar dengan selamat.
Mo Yeon memeriksa salah satu korban yang tampak lemas. Korban itu berkata kalau ia baik-baik saja tapi ada satu korban lagi yang masih ada di dalam, ia mendengar kalau manager Go masih ada di dalam.
Shi Jin keluar untuk mengambil tali dan masuk lagi ke dalam. Mo Yeon melihatnya dengan khawatir.
Myeong Ju menangani pasien gawat, detak jantungnya 60/30, ia minta IVs pada Min Ji tapi mereka kehabisan. Untung Mo Yeon datang dan langsung memberikannya.
Pasien mulai tak sadarkan diri, detak jantungnya taka da dan taka da reaksi dari pupil matanya, Myeong Ju minta Min Ji untuk menyuntikkan sesuatu pada pasien dan ia akan bersiap untuk melakukan CPR, tapi Mo Yeon mendahuluinya. Tidak melakukan CPR tapi dengan memukul-mukul dada pasien secara langsung tapi hal itu lebih efektif karena detak jantung pasien cepat kembali.
Myeong Ju mengatakan diagnosisnya, pasien kemungkinan syok karena hemoperitoneum. Dan pasien butuh esegera dioperasi, ia meminta Mo Yeon agar mengirim pasien ke medicube. Mo Yeon mengatakan tidak bisa karena ruang operasi di medicube penuh.
“berapa lama dari sini ke markas pusat?” tanya Mo Yeon.
30 menit menggunakan helicopter, kawab Myeong Jud an ia menambahi kalau pasien tidak bisa menunggu lebih lama dari itu. Mo Yeon memutuskan untuk melakukan operasi di sana saja tapi di tempat yang lebih terang.
Myeong Ju tak setuju, ia tidak bisa mengoperasi pasien tanpa melakukan CT scan, jadi mereka tak tahu dimana letak pendarahannya.
“itulah alasan kita perlu melakukan laparotomy. Apa ad acara lain yang bisa kita lakukan?”
Myeong Ju masih keberatan, mau membuka perut pasien dengan lingkungan penuh debu semen yang jauh dari streril. Maka akan menyebabkan penyakit yang lainnya.
“Aku tanya apa ad acara lain yang bisa kita gunakan! Cepat putuskan, ini adalah pasienmu!” benatak Mo Yeon.
Myeong Ju pun tak punya pilihan lain, ia terpaksa melakukan operasi disana, lalu memerintahkan Min Ji untuk mengambilkannya betadine dan desinfectan serta peralatn operasi yang lain. min Ji pun segera bergerak.
Mo Yeon berkata kalau mereka harus memindahkan pasien, lalu ia memanggil Ye Hwa untuk membantu.
Gi Beom berkeliling membagikan walkie-talkie pada tim medis yang lain dan ketika ia akan memberikannya pada seorang suster ia malah tak sengaja menabrak kardus berisi obat-obatan sehingga semuanya jadi berantakan. Suster itu kesal dan menyuruh Gi Beom diam saja jika terluka (biar tak mengganggu yang lain). Gi Beom hanya bisa minta maaf.
Lalu Min Ji datang minta perlengkapan operasi dan betadine. Ia kaget melihat semuanya berantakan, ia bertanya, apa terjadi gempa lagi. Gi Beom menjelaskan kalau ia tak sengaja membuat kekacauan. Gi Beom berniat membatu tapi Min Ji mendorongnya menjauh. Lalu ia mengambil barang-barang yang diperlukan.
Gi Beom hanya bisa berdiri mematung di pojokan tenda.
Chi Hoon menangani pasein wanita yang kakinya terluka. Pasien itu menolak saat akan di suntuk padahal Chi Hoon sudah menjelaskan kalau itu hanya obat bius, Chi Hoon mengira kalau wanita itu takut jarum suntik. Bahkan wanita itu sampai menampik tangan Chi Hoon dan suntiknya jatuh.
Wanita itu menjelaskan sesuatu tapi ia gak paham apa. Lalu wanita itu mengeluarkan foto hasil USG. Chi Hoon akhirnya paham kalau wanita itu sedang hamil dan ingin melindungi bayinya dari obat-obatan yang berbahaya.
Akhirnya Chi Hoon tidak jadi membius dan langsung menarik kaki si wanita yang dislokasi setelah wanita itu setuju untuk Manahan sakit yang sangat sangat.
Wartawan datang, mereka mendatangi Gi Beom dan memintanya untuk menunjukkan lokasi bencana tapi Gi Beom gak paham Bahasa inggris, ia mengajak si wartawan ke ja Hae yang lagi membopong pasien, Ja Ae berkata kalau ia sibuk lalu meninggalkan mereka.
Lalu Dr. Sang Hyun datang. Gi Beom memintanya untuk meladeni si wartawan. Dr. Sang Hyun mengatakan dalam Bahasa inggris kalau Bahasa inggrisnya jelek jadi tak bisa banyak berkata-kata. Lalu walkie-talkie berbunyi dari medicube yang minta bantuan dokter untuk operasi, Dr. Sang Hyun langsung bergegas kesana.
Dr. Sang Hyun lalu masuk ke mobil si wartawan, ia berjanji akan melakukan wawancara jika wartawan mau membawanya ke medicube. Wartawan setuju.
GI Beom kagum dengan Dr. Sang Hyun. Kemudian ja Ae mendekat, ia menjelaskan kalau Dr. Sang Hyun memang pria tak berguna tapi dia adalah dokter yang hebat.
Lalu Gi Beom menjawan walkie-talkie yang membutuhkan bantuan darah AB.
Mo Yeon dan Myeong Ju melakukan operasi di lokasi bencana, Gi Beom di tes darahnya oleh Ye hwa dan benar darah Gi beom adalah AB maka ia langsung mendonorkan darahnya saat itu juga dibantu Ye Hwa.
Shi Jin datang menghampiri Mo Yeon, Mo Yeon mengira kalau Shi Jin terluka. Tapi bukan, ada orang lain yang terluka dan ia minta Mo Yeon untuk ikut dengannya, cepat karena darurat.
Mo Yeon mengenali manager Go, ia memberi manager Go suntikan penghilang rasa sakit. Mo Yeon bertanya, apa manager Go bisa merasakan kakinya. Manager Go mencoba menggerakkan kakinya tapi tidak bergerak.
“Tadi rasanya suakit tapi meliat wajah dokter semuanya hilang.” Canda Manager Go.
Mo Yeon membalas kalau ia senang mendengarnya.
Mo Yeon bertanya pada Shi Jin, sejak kapan kaki manager Go tertindih begitu. Shi Jin tak menjawab, ia mengatakan kalau Mo Yeon masih punya satu pasien lagi yang harus dilihat.
Mo Yeon memasang infus pada pasien yang tertusuk besi. Mo Yeon memintanya agar jangan bergerak, pasien itu masih beruntung karena besi yang menuduknya tak mengenai hatinya dan jika pasien terus bergerak kemungkinan bisa melukai tulang belakang.
“Apa aku akan meninggal?”
“Jika kau mencoba diam saja, kau tak akan meninggal.” Jawab Mo Yeon.
Mo Yeon mengatakan pada Shi Jin kalau pasien itu harus segera dibawa ke ruang operasi dan besinya jangan dicabut, ia menunjuk batasbesi yang harus dipotong. Shi Jin mengajaknya bicara sebentar. Mo Yeon menyuruhnya langsung saja. Shi Jin hanya ingin mereka berdua yang bicara.
Mereke punya masalah, masalahnya adalah reruntuhan bangunan yang menimpa Manager Go berhubungan dengan besi yang menancap di tubuh pasien yang satunya. Jika reruntuhan diangkat duluan maka pasien yang satunya akan tertusuk lebih dalam, artinya besinya akan lebih menusuk ke depan. dan jika besinya dipotong duluan maka reruntuhan tambahan akan menimpa manager Go.
“Maksudmu adalah.. menyelamatnya satu dan membunuh yang lain?” tanya Mo Yeon.
“tidak ada cara lain.”
“Aku juga tidak punya pilihan lain.”
Shi Jin menjelaskan kalau dalam situasi seperti ini ia harus mengikuti aturan penyelamatan. Dokter yang menentukan siapa pasien yang peluang hidupnya lebih besar dan mereka akan menyelamatkan pasien tersebut.
“Kau memintaku untuk memutuskan? Siapa yang akan dibnuh dan siapa yang akan diselamatkan?”
“Iya. Itu yang harus… Kau lakukan.”
Mo Yeon bingung. Shi Jin mengatakan kalau mereka harus menyiapkan peralatan untuk menyelamatkan satu orang dan membutuhkan waktu 10 menit.
Mo Yeon bingung. Shi Jin mengatakan kalau mereka harus menyiapkan peralatan untuk menyelamatkan satu orang dan membutuhkan waktu 10 menit.
Shi Jin menjelaskan pada sersan Choi kalau Mo Yeon meminta waktu sebagai dokter dan memerintahkan pada sersan Choi untuk melanjutkan tugas mereka untuk menyiapkan peralatan. Sersan Choi pun bergerak.
Mr. Jin tiba-tiba muncul, ia masih tak percaya Shi Jin masih berdiri saja, bukankah mereka bilang kalau diantara 2 korban hanya memungkinkan untuk menyelamatkan salah satunya. Terus kenapa lama sekali. Lagi-lagi ia minta Shi Jin untuk masuk ke kantornya dan mengambil dokumen.
“Kita hanya mengikuti prosedur penyelamatan.” Jawab Shi Jin lalu pergi.
Mr. Jin menghalanginya. Mr. Jin menjelaskan kalau dokumen tersebut adalah kontrak antara pihak Korea dan Urk untuk pendirian tower tersebut jadi itu adalah asset negara.
“Kau ini tentara ka? Tidakkah Seharusnya mementingkan negaramu dulu? Kenapa kau sangat peduli pada nyawa dua orang pekerja manual?”
“Yaa! Negara? Apa sebenarnya negara itu? Negara kita menempatkan kehidupan dan keselamatan warganya di poin pertama. Itu artinya… ketika Kunyuk sepertimu dalam bahaya, kita akan melakukan apapun untuk menyelamatkanmu. Bagi tentara, tidak ada yang lebih penting daripada menyelamatkan nyawa rakyat Korea. Jika kau butuh dokumenmu… ” berhenti sebenat untuk mengambil sekop, lalu memberikannya pada Mr. Jin,,”Pergi ambil sendiri.”
Mr. Jin membalasnya dengan tertawa, lalu membuang sekop pemberian Shi Jin. ia mengingatkan kalau Shi Jin sudah membuat kesalahan besar.
“Gomawo.. Pegi sana!” balas Shi Jin.
Lalu seseorang berteriak hati-hati.
Shi Jin melindungi Mr. Jin dari pipa dan reruntuhan bangunan yang jatuh tiba-tiba dari atas mereka. Jadi ia yang kena jatuhan pipa dan runtuhan bangunan tersebut.
Shi Jin menengok kebawah, bertanya apa ada yang terluka. Salah satu tentara mengatakan kalau manager Go baik-baik saja. Tapi ada masalah lain, kabel listrik yang terbakar jadi kaya kembang api, Shi Jin menembak ke reruntuhan bangunan sehingga reruntuhan itu jatuh tepat ke kabel yang terbakar sehingga percikan apinya bisa terpadamkan.
Mr. Jin menutup telinganya kaget + ketakutan. Shi Jin meletakkan kembali pistolnya. Ia menanyakan keadaa Mr Jin. dengan gagap Mr. Jin mengatakan kalau ia baik-baik saja.
Shi Jin berjalan ke bawah dan darah berceceran dari dirinya mengenai Mr. Jin. Mr. Jin melihat kea rah Shi Jin yang ternyata bahunya terluka.
Mo Yeon dibantu Ja Ae mengamati kondidi kaki manager Go yang tertindih reruntuhan bangunan dan sepertinya tak ada kabar baik. Mo Yeon menjelaskan kalau kaki Manager Go nanti pasti terasa sangat sakit saat reruntuhan yang menindih kakinya diangkat dan tak ada obat penghilang rasa sakit yang bisa menahannya.
“Dia mempunyai tiga anak. Satu cowok dan dua cewek.” Kata Manager Go.
“Apa?”
“Dia yang di sana (sambil melirik kea rah anak buahnya). Aku tidak tahu banyak, tapi kau tidak bisa menyelamatkan kami berdua, kan?”
Mo Yeon akan menangis. Manager Go tidak apa-apa, dia sudah 30 tahun bekerja di bagian konstruksi jadi ia bisa sedikit peka dari melihat situasi.
“kami akan berusaha sebaik mungkin.” Balas Mo Yeon.
Manager Go mengerti, ia tersenyum, ia merasa beruntung bisa terbaring disana dan bisa menatap ke langit biru.. ia sudah merasa uangnya cukup untuk menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi. Mo Yeon mulai meneteskan airmata.
Pasien satu lagi minta penghilang rasa sakit lebih karena sakitnya sampai mau gila rasanya. Mo Yeon mendekatinya, tak ada lagi penahan rasa sakit karena nanti pasien iru butuh di anestesi untuk operasi. Mo Yeon menyueuh pasien untuk mengenggam tangannya sendiri,
Si pasien senang dan menggerak-gerakkan tangannya,,”Apa aku bisa hidup? Please, save me, please… aku tidak akan bergerak sedikitpun, aku janji.”
“Good” balas Mo Yeon.
Myeong Ju melanjutkan operasinya dibantu Min Ji dan satu suster lain. Gi Beom menyumbangkan darahnya langsung. Myeong Ju menyuruh Min Ji untuk menyediakan makanan bagi Gi Beom, jika pasiennya selamat.
"Apa dia bisa selamat?" tanya Gi Beom
"Bukannya kau sedang mencoba menyelamatkannya?" balas Myeong Ju.
"Aku yang menyelamatkannya? Prajurit Kim Gi Bum. Apa maksudmu, akulah yang bisa menyelamatkan dia? Apa aku bisa memberitahu ini pada Sersan Seo?"
"Tolong antri. Karena akulah yang akan duluan menemuinya."
Gi Beom pun diam.
Ye Hwa mengambil darah para wartawan. Wartawan yang satu protes, mereka datang ke Urk bukan untuk menyumbang darah. Ye hwa menjawab mereka yang terluka juga tidak datang ke Urk dengan tujuan agar terluka.
"Tapi, kau akan menepati janjimu, kan? " tanya si wartawan.
"Tentu saja! Sebagai janji darah, A) Kepala Rumah Sakit Haesung. B) Kepala Pusat Listrik Mohuru. C) Kepala Unit Taebaek. Kau ingin mewawancarai siapa?"
"D) Daniel Spencer" jawab semua wartawan bebarengan.
Ye Hwa menegaskan kalau Daniel taka da dalam daftar pilihan. Tapi bagi wartawan akan bagus jika mereka bisa mewawancarai orang yang berpengalaman dengan tempat bencana. Aku tahu, mereka pikir Daniel sangat terkenal dan cerdas, tapi semuanya tentang penampilan. dan Karena itulah para wartawan menginginkan Daniel, Tak hanya bisa bicara, tapi dia juga tampan.
"Dasar reporter majalah menyebalkan!" dalam bahasa korea.
Dae Young masuk ke dalam bangunan, dia memimpin di depan, dia terus memperingatkan anak buahnya kalau kondisi bangunan tidak stabil jadi harus extra hati-hati. Dan tiba-tiba Dae Young menginjak lantai yang rapuh, ia tererosok jatuh ke lantai bawah.
Gi Beom mendengar dari walkie-talkie kalau dae Yeong menghilang, ia ingin ikut mencari dan meminta Myeong Ju untuk melepaskan perbannya.
"Prajurit Kim, duduklah!" Perintah Myeong Ju.
"Tapi.."
"Aku bilang, duduk! Apa kau mau membunuh pasien ini?"
Lalu Myeong Ju melanjutkan jahitannya. Dae Young melapor kalau ia baik-baik saja, lukanya tak parah karena ia jatuh dari jarak rendah, semuanya terdengar dari walkie-talkie Gi Beom.
Gi Beom memberitahu Myeong Ju kalau Dae Young baik-baik saja tapi Myeong Ju malah menyuruhnya diam karena itu mengganggunya.
Mo Yeon mencoba membersihkan tangannya dari darah tanpa air. Shi Jin mendekat, mengatakan kalau mereka sudah menyiapkan semuanya dan bertanya apa Mo Yeon sudah memutuskan?
Mo Yeon masih menunduk, ia menjelaskan kalau otot kaki manager Go mulai mengalamai nekrosis, saat beton diangkat, mungkin manager Go akan mengalami sindrom traumatis. Dan pekerja local satunya, besi memang mencegah pendarahannya, tapi jika besi dihilangkan akan terjadi pendarahan yang sangat parah.
Mo Yeon mengangkat kepalanya menghadap Shi Jin, dalam situasi seperti ini, ia ingin tahu siapa yang ingin Shi Jin selamatkan. Shi Jin kembali memberi kuasa itu pada Mo Yeon karena Mo Yeon yang sudah mendiagnosis jadi Mo Yeon bisa memutuskan dengan tepat.
"Tapi, kau lebih berpengalaman daripada aku. Mungkin, kau bisa membuat keputusan yang terbaik." Jelas Mo Yeon.
"Terbaik? Apa tindakan seperti ini yang kau bilang terbaik? Dalam gerakan penyelamatan, tak ada yang dikatakan dengan terbaik. Kita hanya perlu menyelesaikan masalah yang ada di depan kita."
Mo Yeon juga tahu itu, tapi... Sepanjang hari ini, ia menyelamtkan pasien tanpan protokol jelas. ia tak tahu, apakah tindakannya ini benar atau...
"Tindakanmu sudah benar. Dalam situasi seperti ini, kau hanya perlu melakukan apa yang kau bisa, ataukah hanya diam saja dan membiarkan mereka mati. Pilih salah satu. Tak ada waktu untuk merengek. Kami tak memintamu untuk membuat sebuah keajaiban. Kami tak mengharapkan dokter sempurna yang bisa menemukan anti virus, tapi, kami hanya mengharapk diagnosis dari seorang dokter. Jadi, tolong beritahu aku hasil diagnosismu sebagai seorang dokter."
"Urutan penyelamatannya..."
setelah itu kita melihat kalau pasien dengan besi tertancap dilarikan ke ruang operasi medicube.
Mo Yeon memberikan aba-aba, Dadanya tertancap besi, tapi ia tak yakin apakah tulang belakangnya juga terluka. Tapi, respon tubuhnya masih bagus. Sediakan antibiotik dan lakukan X-ray.
"Aku sudah tahu. Kau sudah memberitahuku tadi." balas Dr. Sang Hyun.
Dr. Sang Hyun akan mengoperasinya dan ia menyuruh Mo Yeon minum sedikit. Mo Yeon tidak mau, ia yang akan mengoperasinya. lalu bertanya, Portable x-ray sudah siap, 'kan?
"Film-nya sudah habis. Sterilisasi juga sudah rusak. Kita kekurangan banyak sekarang." jawab Dr. Sang Hyun.
"Kita harus tetap melakukannya dengan alat seadanya. Sunbae, kau harus menemaniku, aku tak bisa melakukannya sendiri."
Lalu mereka membawa pasien masuk ke ruang operasi.
Anestesi sudah selesai. Mo Yeon mengatakan kalau pasien tidak akan meninggalkarena mereka akan mengoperasinya dengan cepat dan akurat. Lalu dimulailah proses operasi.
Foto korban yang meninggal diambil satu persatu sebelum dimasukkan ke kantong jenazah. Termasuk foto manager Go.
Shi Jin membuka dompet manager Go, disana ada foto keluarganya. Shi Jin meletakkan dompet tersebut di dada manager Go dan menahannya dengan tangan manager Go. Lalu kantong jenazah akan ditutup oleh tentara yang lain. Shi Jin memberi hormat pada manager Go.
Ye Hwa mengambil jam dinding yang terjatuh akibat gempa, jamnya mati. Daniel merebutnya lalu memperbaikinya, tak lama kemudian jamnya sudah bisa jalan lagi.
Pasien Myeong Ju pun berhasil melewati operasi dan tanda vitalnya bagus. Myung Ju menyampaikan kalau Gi Beum sudah bekerja dengan baik. Lalu Gi Beum menghormat padanya dan dibalasnya.
Ketua Park membawa pasukan baru ke lokasi bencana, ia mengatakan kalau Shi Jin dan tim-nya sudah bekerja keras, sekarang saatnya mereka untuk istirahat dan pekerjaan mereka akan digantikan oleh tentara yang baru datang.
Dan mereka pun kembali ke markas Mowuru naik truk.
Ayah Shi Jin menemui Ayah Myeong Ju. Ayah Myeong Ju menjelaskan kalau mereka (tim di Urk) sedang dalam tugas penyelamatan dan tim medis taka da yang terluka termasuk Myeong Ju.
Ayah Myeong Jut ahu kalau ayah Shi Jin pasti mengkhawatirkan puteranya makanya ia meminta ayah Shi Jin untuk datang. Tapi ayah Shi Jin tak khawatir karena mamang itulah tugas tentara.
"Aku malu mengatakan ini, tapi... aku bisa sedikit tenang karena Kapten Yoo bisa menjaga putriku. Aku sangat mengandalkan Kapten Yoo. Si Jin mampu mendapatkan 4 bintang, aku sangat mengharapkan hal itu."
"Aku tak yakin, apakah dia bisa."
"Dia adalah prajurit yang sangat mengagumkan. Banyak tentara yang mengidolakan dia, baik itu bawahan maupun atasannya."
"Si Jin sepertinya sangat beruntung."
Pindah ke RS Haesung di Seuol. Ketua Han menyampaikan pada yang lain kalau tim medis di Urk tak ada yang terluka dan sekarang mereka sedang melakukan penyelamatan, jadi tak perlu ada yang dikhawatirkan.
Hee Eun langsung terduduk, ia lega dan bersyukur. Ibu mertuanya khawatir, tapi ia memastikan kalau ia baik-baik saja.
Ji Soo bertanya kapan tim medis akan kembali ke korea. Ketua Han menjawab kalau Pesawat akan dikirim setelah kondisi bandara kembali normal.
"Kapan? Apa kau bisa menelepon Chi Hoon? Aku harus mendengar suaranya agar aku bisa kembali tenang." perintah Ibu Chi Hoon.
Ketua Han menjelaskan kalau Panggilan pribadi masih belum bisa dilakukan. Panggilan hanya bisa dilakukan melalui telepon satelit. dan Sekarang, teleponnya..
"Yaa! Aku memiliki saham besar dalam satelit itu. Sambungkan aku, cepat!"
Ji Soo berjalan dengan Hee Eun. Mereka membahas soal ibu mertua Hee Eun yang memanggil Ketua Han dengan “Yaa!”. Hee Eun menjawab, Karena tanah rumah sakit memang milik keluarha Chi Hoon.
Ji Soo langsung menghentikan kursi rodanya, ia memegang tangan Hee Eun,,” Nyonya, aku tak pernah membuatmu marah, 'kan?”
Hee Eun hanya diam dengan muka penuh tanya, ia tak tahu apa maksudnya.
Chi Hoon merenung sendirian,,
"Aku yakin dia akan meninggal." Gumamnya.
Lalu ia memeluk kedua lututnya, menangis..
Dr. Sang Hyun menghampiri Chi Hoon, ia akan merokok. Chi Hoon bertanya apa pasiennya masih bertahan. Dr. Sang Hyun mengiyakan untuk saat ini. dr. Sang Hyun menerogoh sakunya mencari sesuatu tapi tak ketemu lalu ia menatap Chi Hoon.
“Aku tak punya korek.” Jawab Chi Hoon.
“Aku hanya mau bertanya, apa kau baik-baik saja?”
Dr. Sang Hyun melihat Chi Hoon yang masih memegang pita hitam.
“Aigoo.. Pertanyaan macam apa itu, ya?” tanya Dr. Sang Hyun.
Chi Hoon minta sebatang rokok. Tapi Dr. Sang Hyun melarangnya merokok karena dokter tak boleh merokok. Lalu Dr, Sang Hyun menyenggol lengan Chi Hoon. Chi Hoon membalasnya dengan senyum.
Mr. Jin datang ke medicube, ia minta bertemu dokter. Min Ji sudah mencoba menghalanginya tapi Mr. Jin tetap memaksa masuk, padahal Medicube sedang sibuk bangets. Akhirnya Mr. Jin melihat Ja Ae, ia tahu pasti Ja Ae mengenalnya.
Mr. Jin mengatakan kalau ia berdiri sepanjang hari jadi guadarahnya menurun, lalu ia berbaring minta disuntik glukosa atau vitamin, ia juga minta dibawakan bawang putih.
Min Ji menjelaskan pada Ja Ae kalau ia sudah melarang Mr. Jin tai gak mempan. Ja Ae mengerti dan menyuruh Min Ji untuk kembali bekerja. Ja Ae berhubungan dengan walkie-talkienya.
"Ini, aku dari bangsal. Ada pasien yang sedang sekarang membutuhkan vitamin. Jika ada dokter yang sedang tidak ada kerjaan sekarang, tolong ke sini dan obati pasien ini, over."
"Benarkah? Bagaimana kondisi pasien itu?" Jawab Dr. Sang Hyun dari seberang.
"Sepertinya, dia membutuhkan pengobatan pada mata. Mungkin dia mau buta, karena dia tak bisa melihat keadaan gawat pasien lainnya, dan dia terus merengsek sedang sekarat. Mulutnya sangat sehat.
"Dia hanya pasien RSJ. Over."
Mr. Jin bangun, ia berdiri lalu merebut walkie-talkie Ja Ae lalu melemparnya ke ranjang yang ia gunakan untuk berbaring tadi. ia bertanya dengan Bahasa informal, siapa nama Ja Ae.
“Ha Ja Ae. Dan kau, siapa namamu tadi?” balas Ja Ae juga dengan Bahasa informal.
Mr. Jin tak terima Ja Ae bicara informal padanya. Ja Ae menjawab kalau ia pikir Mr. Jin mau berteman karena Mr. Jin duluan yang bicara informal padanya. Lalu Ja Ae menanyakan berapa umur Mr. Jin, karena mereka sudah tahu nama masing-masing.
"Yang benar saja. Kau! Tunggu dan lihat saja.”
"Ya, ya, ya. Aku akan menunggunya." jawab Ja Ae kembali menggunakan Bahasa formal.
lalu ia pergi mengajak Min Ji untuk bekerja karena alat strerelisasinya rusak.
Dae Young dan Shi Jin keluar dari gudang penyumpan makanan dan ternyata makanan mereka tinggal sedikit, mereka bingung bagaimana memberi makan semuanya sekarang.
Kemudian si sexy dari restaurant datang membawa makanan untuk 100 orang.
“Sempurna. Kau memang yang terbaik.” Puji Dae Young.
Shi Jin membangatakan akan membeli menuman si sexy untuk 100 orang sebagai balasannya dan tentu saja dae Young yang mentraktir karena gajinya dipotong. Dae Young hanya bisa memelototinya.
Para tentara pun menikmati makanan pemberian si sexy.
"Kalian sudah berusaha keras dan tak tidur selama 2 hari. Kami sudah menghubungi orang tua kalian, jadi jangan khawatir. Saat, jaringan kembali normal, kita akan melakukan video-call, jadi bersabarlah sedikit."
"Ya, kami mengerti." jawab semuanya.
Shi Jin manmbahi kalau mereka akan tetap melakukan gerakan penyelamatan besok. Dan gerakan itu akan sangat sulit, jadi, setelah selesai makan, langsung bisa pergi tidur. tak perlu memikirkan apapun saat ini, dan tidurlah saja. hanya perlu mengikuti perintah. Karena ia akan selalu siap memberikan perintah kapanpun.
mereka semua mengerti.
Dae Young mencuci mukanya, ia memijit tangannya yang sakit akibat jatuh tadi. Myeong Ju muncul tiba-tiba mengambil handuk di leher Dae Young untuk membantunya mengelap muka.
"Kau datang ke sini. Apakah karena atas keinginan sendiri ataukah perintah ayahku?" tanya Myeong Ju.
"Tanggung jawabku adalah bekerja di tempat yang paling berbahaya.
Myeong Ju tak tahu kenapa Dae Young bisa memutuskan untuk datang. Tapi, yang perlu Dae Young tahu, ia tak suka sikap Dae Young ini.
"Telepon dia (Ayah Myeong Ju). Dia pasti sangat khawatir." pinta Dae Young.
"Bagaimana denganmu? Bagaimana jika kau terluka?"
"Maaf... karena aku selalu menghindarimu."
"Lalu, kenapa kau tak menggenggam tanganku?"
tapi bukan genggaman yang ia dapat, melainkan pelukan hangat dari Dae Young.
Ja Ae sedang merebus peralatan operasi karena alat sterilnya rusak. Dr. Sang Hyun datang untuk menggantikannya. Ia bertanya, apa Ja Ae gak ketakutan?
"Sudah kubilang, 'kan? Kita harusnya lari saat hari pertama sampai di sini. Aku bisa menggunakan anak dan juga istriku sebagai alasan." lanjut Dr. Sang Hyun.
"Kau bisa saja kabur. Kenapa aku bertahan di sini?"
"Bagaimana denganmu?"
Lalu Dr. Sang Hyun minta Ja Ae mengulagi angka 1030. itu adalah password notebooknya. Jika ia mati di sini, ia ingin Ja Ae membuka drive C di notebook-nya Dan cari dokumen rumah sakit, dan cari lagi folder zip. kemdian hapus folder itu. ia minta meminta bantuan Ja Ae sebagai teman.
Ja Ae tanya, folder apa itu.. tapi kemudian ia ingat dan menyuruh Dr. Sang Hyun untuk segera menghapusnya. Dr. Sang Hyun tak bisa sebelum ia mati.
Mereka selesai. Dr. Sang Hyun mematikan apinya dan berjalan masuk. Ja Ae memukulinya sambil jalan menyuruhnya untuk segera menghapus folder tersebut.
"Kau ini! Dasar jorok! Jorok!" kata Ja Ae.
Mo Yeon melakukan cek pada pasien. Pertama pasien besi yang baru saja dioperasi. Dr Sang Hyun menjelaskan kalau pasiennya belum sadar, mungkin mereka bisa mengetahui hasilnya besok.
Kedua, pasien yang hampir meninggal di depan pembangkit listrik. Dokter yang merawatnya mengatakan kalau pasien itu sudah sadar. Mo Yeon mengeceknya kemudian mengganti pita merah menjadi hijau karena keadaan si pasien sudah semakin membaik.
Ketiga, pasiennya Chi Hoon, seorang ibu hamil. Chi Hoon menjelaskan kalau ibu itu mengalami fraktur tibialis dank arena dia sedang hamil maka Chi Hoon mengobatinya tanpa anestesi, tapi walaupun sakit si ibu bisa menahannya.
Mo Yeon memeriksa kondisi bayi dan berkata kalau bayinya sangat kuat. Tapi perhatian Mo Yeon tertuju pada ponsel Chi Hoon yang diletakkan disebelah ubu tadi.
"Itu adalah musik klasik kesukaanku. Aku khawatir jika bayinya takut." jelasChi Hoon.
"Kau sudah menjadi dokter dan juga ayah sesungguhnya sekarang."
Semua juga kagum dengan Chi Hoon.
Mo Yeon melihat pasien yang meminjamkan sepatu padanya. Mo Yeon mendekatinya dan mengembalikan sepatu itu.
"Aku sudah memakainya. Terima kasih."
pasien membalasnya dengan senyum.
Mo Yeon menyalakan lilin sebagai penghormatan untuk korban yang meninggal. Total korban yang meninggal adalah 18 orang dan yang terluka 41 orang.
Lalu Mo Yeon menujuke arah pembangkit listrik yang runtuh. Shi Jin muncul dibelakangnya.
Mo Yeon membayangkan semua pasiennya sebelum kejadian, pasien yang tertusuk besi serta yang meminjaminya sepatu bertugas untuk mengangkat semen.
Kemudian si Ibu hamil datang untuk mengirim makanan pada suaminya.
Dan yang terakhir dilihatnya adalah manager Go yang sedang menghukum priamuda yang kerjaannya Cuma tidur.
“Dokter. Kau sudah bekerja keras.” Ucap manager Go lalu menyunggingkan senyum untuk Mo Yeon.
Mo Yeon menangis tersedu. Shi jin menatapnya dari belakang.
Kemudian seoarng tentara menghampiri Shi Jin. ia bertanya apa yang Shi Jin butuhkan. Shi Jin menjawab kalau ia hanya lihat-lihat saja.
Tentara itu melihat bahu Shi Jin berdarah. Shi Jin meminta bantuannya untuk memeriksa bahunya.
"Anda bisa menahan sakitnya? Sepertinya harus dijahit." ujar si tentara.
"Pantas saja, bahuku sangat sakit."
Tentara akan memanggilkan tim medis tapi Shi Jin melarangnya karena ia akan pergi sendiri.
Kemudian Mo Yeon datang, ia minta Shi Jin mengikutinya.
Mo Yeon mulai menjahit luka Shi Jin. ia bertanya, bagaimana Shi Jin bisa terluka. Shi Jin menjawab ia terluka saat penyelamatan reruntuhan tadi. Mo Yeon tersenyum.
“Aku baik-baik saja.” Ujar Mo Yeon.
“Kau mendengarnya? Aku bertanya sangat pelan tadi.”
“Ya. "Pelan" yang "keras".”
Padahal Shi Jin tadi gak nanya apa-apa.
Shi Jin senang Mo Yeon bisa ada di sana. Ia berterimakasih pada Mo Yeon yang mau berjuang di sana bersamanya.
"Aku juga, terima kasih, Kapten." balas Mo Yeon.
Shi Jin tak berniat jahat pada Mo Yeon tadi. Mo Yeon tahu hal itu. SHi Jin penasaran, kok Mo Yeon tahu
"Menurutmu sudah berapa tahun aku menjadi dokter? Seseorang yang melihat lebih banyak kematian dari seorang tentara adalah seorang dokter yang memegang pisau." jelas Mo Yeon
Jika kata-katanya tadi tidak berguna, Shi Jin menyuruh Mo Yeon untuk melupakannya saja. Tapi... ia sungguh tak ingin Mo Yeon terluka. Itulah yang ia rasakan.
"Kalau begitu, tak perlu menyemangatiku lagi, dan kau bisa melakukan keahlianmu saja, Kapten."
"Keahilianku? Apa maksudmu?"
"Melawak. Karena sepertinya, aku membutuhkan lawakanmu sekarang ini."
Shi Jin berkata kalau Mo Yeon sangat cantik sekarang. Mo Yeon membalas kalau Shi Jin tak sedang melihatnya sekarang. Shi Jin sudah melihat Mo Yeon tadi, Mo Yeon selalu saja cantik.
"Matamu itu bagus sekali." balas Mo Yeon.
"Aku hanya bercanda."
Mo Yeon tersenyum. ia sudah selesai menjahit luka Shi Jin.
"Aku sangat merindukanmu."
Mo Yeon membeku,
Shi Jin melanjutkan,, "Apapun yang aku lakukan, aku selalu saja memikirkanmu. Aku memaksa diriku, aku berusaha keras. Aku minum dan mencoba semuanyanya. Tapi, percuma karena aku masih merindukanmu. Apa kau tak menyangka aku akan mengatakan ini? Kalau begitu, dengarkan aku. Karena aku sedang tidak bercanda sekarang."
Ikuti update Juragan Sinopsis setiap hari lewat Twitter di @Rujakdulit
crack 3/10/2016 07:40:00 PM Serial TV Bandung, Indonesia
Sinopsis Descendants of The Sun (DTS) Episode 3 bagian 1 - Setibanya Mo Yeon bersama tim relawan lainnya di Bandara Internasional Uruk, beberapa saat kemudian sebuah pesawat helikopter mendarat. Beberapa tentara keluar, dan Mo Yeon melihat Shi Jin ada diantara mereka. Melihat Shi Jin, Choi Min-Ji (diperankan oleh Park Hwan-Hee) menghampiri kepala perawat Ha Ja-Ae. Min Ji,”Bukannya dia prajurit yang kita lihat beberapa waktu lalu ?”. Ja Ae,”Saya pikir gitu”. Shi Jin memperkenalkan dirinya sebagai komandan pasukan keamanan yang menjaga tim relawan selama mereka berada di Uruk.
Shi Jin,”Dan saya adalah komandan, Kapten Shi Jin”. Lalu semua anggota tim relawan medis menyapa Kapten Shi Jin serta anggota pasukan keamanan lainnya. Kemudian ajudan Dae Young angkat bicara menjelaskan semua tim medis akan berangkat dari bandara Mohr menuju ke tempat tujuan lewat helikopter tipe 47. Dae Young,”Selama proses perjalanan, kalian dibatasi oleh satu tas ransel militer yang diberikan pada kalian untuk membawa barang2 pribadi kalian”. Ajudan Dae Young memberitahukan keberangkatan tim dimulai 10 kemudian tepat jamnya 13:25 (waktu Uruk).
Sekilas kapten Shi Jin mengambil syal milik Mo Yeon, dan memandangi Mo Yeon. Kapten Shi Jin menghampiri Mo Yeon lalu memberikan syal milik Mo Yeon itu kepadanya. Mo Yeon pun mengambil syalnya, sedangkan kapten Shi Jin menatap tajam Mo Yeon. Kemudian ketua tim relawan Mo Yeon bersama rombongan berjalan menyusuri jalanan Uruk, ditemani oleh beberapa anggota keamanan. Saat melewati sebuah gedung, anggota pasukan keamanan beryanyi di depan para relawan tim untuk menyambut mereka.
Masing2 anggota tim relawan hanya boleh mengenakan tas ransel militer yang sudah diberikan sebelumnya, dan tak boleh membawa tas lain. Pasukan lainnya memberikan Mo Yeon serta tim relawan lain kalung bunga untuk menyambut mereka semua yang baru tiba di Uruk. Sang Hyun,”Saya terlihat sungguh natural kan ?”. Chi Hoon,”Yah tentu..”. Chi Hoon melihat lokasi ini adalah kamp tempat mereka tinggal sekarang. Sang Hyun tak menyangkan di usianya yang ke 40 menjadi tim relawan. Sebaliknya Chi Hoon merasa senang menjadi tim relawan karena merasa seperti sedang karyawisata. Untuk menghibur diri mereka sendiri, keduanya pun berdansa.
Semua tim relawan pun tinggal di kamp tenda khusus tim medis. Mo Yeon serta Min Ji menghampiri tenda mereka dan merapikan barang2 mereka masing2. Min Jin agak mengeluh dengan barang2 bawannya yang cukup sedikit dibawanya. Salah seorang prajurit masuk ke tenda Mo Yeon serta Min. Prajurit,”Apakah kalian baik saja ? Kalian enggak ingat aku ?”. Prajurit itu berlagak di depan Mo Yeon seperti lari. Akhirnya Mo Yeon ingat prajurit itu adalah mantan pasiennya yang pernah ingin lari dari RS Haesung. Nama prajurit itu adalah Kim Gi-Bum (diperankan oleh Kim Min-Suk). Mo Yeon,”Yang lari dari RS ? Oh yea pencuri itu ?”.
Mo Yeon serta Min Ji tak menyangka Gi Bum menjadi prajurit di tempat tugas mereka. Gi Bum memperkenalkan dirinya yang kini menjadi prajurit tamtama. Mo Yeon menanyakan keadaan ankle Gi Bum apakah sudah baik. Lalu Gi Bum melompat2 untuk memperlihatkan keadaanya yang sudah sehat. Gi Bum berterima kasih atas pertolongan pertama Mo Yeon serta Min Ji di RS Haesung. Gi Bum,”Saya menerima kelas pelayanan pertama setelah saya melalui ujian fisik”. Min Ji ingin tahu apakah Gi Bum bukan lagi seorang pencopet.
Lalu Gi Bum memperkenalkan dirinya sebagai prajurit tamtama dari Republik Korea Selatan, yang rela memberikan kesetiaan kepada negara dan tim batalyonnya. Mo Yeon dan perawat Min Ji kagum mendengarnya. Sementara itu, Ja Ae dan Sang Hyun bersama dalam satu tenda. Sang Hyun agak mengeluh dengan bergoyang2 diatas matras tempat tidurnya. Ja Ae meminta Sang Hyun menghentikan tindakannya itu. Sang Hyun menyuruh Ja Ae berhenti mengepak barangnya. Ja Ae jengkel menyuruh Sang Hyun keluar dari tendanya. Sang Hyun,”Hey, tidakkah kamu dengar apa yang kang Mo Yeon bicarakan di telepon dengan Kepala sebelumnya ?”.
Sang Hyun menjelaskan kegiatan relawan ini seperti layaknya hukuman. Ja Ae jengkel mendengarnya, Jae Ae merasa dirinya yang sudah dihukum karena sudah mengenal Sang Hyun selama hampir 30 tahun lamanya. Sang Hyun jengkel mendengarnya perkataan Jae Ae itu. Sang Hyun jengkel mengenal dirinya layaknya hukuman bagi Jae Ae. Sang Hyun bertingkah di depan Ja Ae dengan melompat2 di matraks, Ja Ae,”Kekanak2-an!”.
Di luar markas tim relawan, dan prajurit Chi Hoon memotret sepatu militer pasukan dengan kameranya. Choi Woo-Geun (diperankan oleh Park Hoon) menyuruh Chi Hoon menghentikan tindakannya itu. Woo Geun mengambil kamera Chi Hoon dan memeriksanya. Woo Geun menyuruh Chi Hoon menghapus foto2 yang diambil oleh kamera Chi Hoon. Namun Chi Hoon tetap ingin mengambil foto Woo Geun, Woo Geun menegaskan Chi Hoon dilarang untuk mengambil foto dikerenakan adanya aturan2 militer yang tak bisa dijelaskan.
Tak lama Mo Yeon muncul, Mo Yeon menyindir sikap prajurit yang memiliki banyak rahasia yang tak bisa diberitahukan karena alasan adanya aturan2. Kemudian Woo Geun pergi, Chi Hoon,”Bagaimana kamu tahu itu sunbae ?”. Saat berjalan di sekitar kamp, Mo Yeon melihat kapten Shi Jin membawa sekotak kiriman. Melihat Mo Yeon, kapten Shi Jin hanya bersikap cuek dan membawa kotak kiriman itu kedalam gedung. Mo Yeon,”Apa dia sungguh tak liat aku, atau pura2 tidak melihat ?”.
Di dalam gedung, kapten Shi Jin memandang wajah Mo Yeon dari balik tembok. Kemudian kapten Shi Jin memberikan kotak yang dibawanya kepada Dae Young. Kapten Shi Jin menyuruh ajudannya Dae Young membuka kotak itu, namun dia tak ingin. Dae Young,”Saya bisa melakukannya nanti, pak!”. Shi Jin,”Enggak2. Kita tak bisa menunggu. Gimana klow ada Choco Pie disana ?”. Dae Yooung,”Nampaknya itu hanya seperti bomb teroris”.
Shi Jin jengkel menegaskan lelaki hanya meninggal sekali bukannya dua kali. Shi Jin,”Kamu seharusnya membukanya”. Kemudian Dae Young membuka kotak kiriman itu dan dia melihat ada ginseng merah, yang mungkin buat sersan Moon. Selain itu ada dawai gitar buat sersan Choi, juga DVD drama buat sersan Gong. Tak lama perhatian Dae Young tertuju pada sebuah surat. Dae Young mengambil surat itu dan membacanya, Shi Jin mengira tak ada kiriman buat ajudannya Dae Young. Dae Young,”hadiahku ada sekarang. Saya pikir dia disebar disini”. Shi Jin,”Dia datang kesini ?”.
Sebaliknya letnan Myeong-Joo melapor ke letjen Yoon di markas pusat. Myeong Joo melaporkan dirinya pada tanggal 21 Mei 2015 sudah ditugaskan untuk dikirim bergabung dalam kesatuan medis di kesatuan Mohuru Taebaek di Uruk. Myeong Joon pun memberikan salam militer kepada jenderalnya. Myeong Joon berjanji akan kembali dengan selamat ke markas setelah menjalankan tugas negara itu.
Letjen Yoon lalu berujar dia begitu suka dengan kapten Shi Jin, yang kedepannya layak untuk menjadi seorang jenderal. Letjen Yoon juga ingin Shi Jin bisa menjadi menantunya. Ternyata letnan Myeong Joon adalah anak dari letjen Yoon, tapi Letjen Yoon tidak suka bila Myeon Joon berhubungan dengan ajudan Dae Young. Letjen Yoon,”Seo Dae Young tersisa sebagai prajurit karena dia tahu sentimenku”.
Bagi Myeong Joon, Dae Young adalah seorang prajurit yang sesungguhnya, dan itulah alasan mengapa Myeong Joon suka pada Dae Young, dan tak bisa kehilangan Dae Young. Letnan Myeong Joon mengancam jika Letjen Yoon tidak mengijinkan untuk mengirimnya ke lokasi tugas Dae Young, maka Letjen Yoon akan kehilangan seorang letnan dan anaknya sendiri. Myeong Joon,”Itu semua laporanku”. Kemudian Mo Yeon menelpon temannya Ji Soo. Mereka membahas Myeon Joon dan Dae Young yang nampaknya berpacaran. Mo Yeon melihat Myeon Joon juga akan ditugaskan di markas Uruk.
Lalu ji Soo membahas tentang takdir Mo Yeon bertemu Shi Jin, Ji Soo,”Apa kamu bahagia melihatnya lagi ?”. Namun Mo Yeon malah merasa tak nyaman setelah bertemu dengan Shi Jin. Tak lama telepon Mo Yeon dengan Ji Soo terputus karena jaringan. Kemudian Mo Yeon memandangi penduduk pribumi Uruk sembari tersenyum. Mo Yeon memotret mereka. Tak lama Mo Yeon melihat seorang anak pribumi Uruk memakan sesuatu, Mo Yeon melarang anak itu memakannya.
Namun tanpa sadar Mo Yeon malah sudah melewati batas area yang ditetapkan buat tim relawan dan pasukan keamanan Korea Selatan selama bertugas di Uruk. Mo Yeon memberikan kedua anak pribumi itu cokelat. Lalu anak2 yang lain meminta makanan ke Mo Yeon. Kemudian Shi Jin memanggil Mo Yeon, Shi Jin,”Kamu tidak seharusnya tidak memberikannya jika kamu tidak bisa memberikannya kepada semua orang”. Shi Jin menghampiri Mo Yeon.
Shi Jin marah dengan Mo Yeon yang sudah melewati batas area. Shi Jin berbicara dalam bahasa Uruk kepada anak2 itu dan meminta anak pergi ke unit pelatihan tempat sersan Choi. Lalu anak2 itu pergi. Mo Yeon ingin tahu apa yang dikatakan oleh Shi Jin. Shin mengaku menyuruh anak2 itu pergi, bila tidak dia akan menembak. Mo Yeon tahu Shi Jin berbohong. Mo Yeon kesal dan hendak pergi, tak lama Mo Yeon merasa menginjak sesuatu.
Shi Jin,”Jangan bergerak..”. Shi Jin menjelaskan Mo Yeon sekarang sedang menginjak sebuah ranjau. Mo Yeon kaget saat tahu menginjak ranjau. Mo Yeon cemas, Shi Jin meminta Mo Yeon jangan bergerak. Mo Yeon,”Sungguh ? Apa saya sungguh menginja ranjau ?”. Mo Yeon takut dia akan meninggal. Shi Jin menakuti2 Mo Yeon selama berada di akmil dan bertugas selama 15 tahun sebagai tentara, Shi Jin tak pernah melihat orang yang menginjak ranjau hidup. Mo Yeon,”Gimana kamu bilang gitu ? Apa kata2 itu yang diucapkan oleh tentara ?”.
Mo Yeon menyinggung film yang dinontonnya, biasanya orang menggunakan pisau Mcgyver untuk menjinakkan ranjau itu. Mo Yeon marah dengan sikap main2 Shi Jin, dan mengutuk Shi Jin. Mo Yeon berkata seperti itu karena dia takut akan meninggal. Akhirnya Shi Jin meminta Mo Yeon mengangkat kakinya, dan menaruh kakinya di atas kaki Shi Jin. Shi Jin,”Ini akan meledak. Saya akan melangkahinya dan menggantikanmu meninggal dunia”.
Mo Yeon semakin gelisah dengan omong kosong Shi Jin. Mo Yeon meminta Shi Jin mencari bala bantuan. Karena dorongan Mo Yeon ke Shi Jin, keduanya malah terjatuh ke tanah bersama. Shi jin senang Mo Yeon jatuh kedalam pelukannya. Mo Yeon heran ranjau malah tak meledak. Mo Yeon,”Apa ini apa ini kebohongan ?”. Mo Yeon marah dengan sikap Shi Jin yang berbohong padanya. Mo Yeon,”Lupakan. Jangan bicara padaku. Bahkan jangan ikuti aku”.
Di dalam kamp penginapan tim relawan dan pasukan keamanan Korsel, mereka berpesta sejenak memanggang daging. Chi Hoon meminta sunbae Mo Yeon makan bersama tim relawan medis lain. Namun Mo Yeon pergi dengan marah, Dae Young,”Apa sesuatu terjadi ?”. Shi Jin,”Saya buat dia menangis”. Shi Jin menghampiri Mo Yeon dan meminta maaf sudah berbohong tentang ranjau itu.
Tapi Mo Yeon terus berjalan dan tak mengindahkan permintaan maaf Shi Jin. Shi Jin mengaku bercanda terlalu jauh karena sudah jenuh menghabiskan waktu dengan prajurit2 lainnya. Shi Jin,”Saya sungguh minta maaf”. Mo Yeon,”Saya ngerti..”. Mo Yeon langsung berjalan bersikap cuek dengan Shi Jin. Namun Shi Jin langsung memberikan salam hormat militer di hadapan Mo Yeon. Tindakan kapten Shi Jin itu juga diikuti oleh ajudan serta prajurit2 lainnya, mereka semua memberikan salam hormat ala militer.
Mo Yeon heran dengan tindakan Shi Jin itu. Akhirnya Shi Jin membalikkan tubuh Mo Yeon dan Mo Yeon melihat ada bendera Republik Korea Selatan, yang dikibarkan pada sebuah tiang. Melihat bendera negaranya, Mo Yeon sebagai warga sipil menaruh tangannya di dada untuk memberikan juga penghormatan kepada negaranya. Shi Jin,”Senang ketemu sama kamu lagi”.
Mo Yeon dan Shi Jin menatap bendera negara mereka Korea Selatan dengan haru. Di kamp pasukan keamanan Korsel, kapten Shi Jin menghitung anggota prajurit tamtamannya. Sementara prajurit lain membantu tim medis di tenda mereka dalam memasang kelambu buat tidur. Mo Yeon di dalam kelambunya sedang tidur, namun memikirkan sesuatu. Di luar kamp, pasukan lain tetap mawas untuk menjaga keamanan.
Keesokan harinya, Min Ji dan Mo Yeon melihat anggota prajurit tamtama Korsel lain yang sedang berlari mars pagi sambil bernyanyi. Min Ji,”Mereka mungkin melakukan ini setiap pagi kan ?”. Para prajurit Korsel itu berlari mars sambil bernyanyi dengan tubuh kekar mereka. Melihat tubuh prajurit Korsel itu Mo Yeon senang melihatnya. Tiba2 Shi Jin muncul, namun Mo Yeon meminta Shi Jin untuk minggir sedikit. Saat para prajurit lewat, kapten Shi Jin meminta prajurit2 tamtamanya untuk berhenti melakukan mars mereka.
Kapten Shi Jin bingung dengan jadwal tim medis diantara pagi dan sore hari. Mo Yeon mengabaikan Shi Jin ingin memandang tubuh kekar prajurit Korsel, namun Shi Jin menghalangi lagi pandangan Mo Yeon, dan itu membuat Mo Yeon kesal. Kemudian tim medis dari RS Haesung mendantangi kamp mereka dan mempersiapkan obat2-an dan peralatan medis lain, guna memeriksa kesehatan para prajurit. Saat Mo Yeon dan Min Ji datang, semua prajurit tamtama Korsel langsung ingin diperiksa oleh Mo Yeon bukannya Sang Hyun.
Para prajurit Korsel itu buru2 ingin diperiksa oleh dokter cantik Mo Yeon. Prajurit,”Saya selalu sakit disini, Dokter”. Tak lama kapten Shi Jin muncul dan menyapa prajuritnya. Saat hendak pergi, Mo Yeon memanggil Shi Jin dan ingin memeriksa Shi Jin. Lalu Mo Yeon hendak menyuntik Shi Jin, namun Mo Yeon tak bisa menemukan nadi Shi Jin. Shi Jin merasa kesakitan, saat Mo Yeon mencari nadi Shi Jin. Shi Jin,”Jika kamu masih marah dari candaan kemarin..”. Mo Yeon,”Saya tidak menyimpan dendam karena hal2 seperti itu”.
Karena terlalu lama, Shi Jin memegang tangan Mo Yeon untuk menyuntik. Sontak Mo Yeon terkaget suntik yang dipegangnya langsung masuk ke urat nadi Shi Jin. Tak lama seorang petugas lain datang dan berterima kasih atas bantuan dari Shi Jin. Shi Jin,”Itu enggak ada apa2nya. Kita seharusnya makan daging bersama minggu ini”. Tak lama semua orang mendengar adanya bunyi klakson. Lalu Shi Jin menghubungi prajuritnya yang lain, Shi Jin,”Ini Komandanmu, laporkan situasi”. Anak buh Shi Jin melaporkan sepertinya ada kecelakaan mobil di dekat jalanan menuju gunung. Akhirnya Shi Jin ditemani Dae Young, serta prajurit Korsel lain datang ke lokasi TKP, dengan mobil perang. Mereka melihat sebuah mobil terbalik.
Shi Jin,”Kecelakaannya sepertinya disebabkan oleh sebuah objek yang membayakan”. Kapten Shi Jin, ajudan Dae Young hendak memeriksa mobil PBB yang terbalik itu, apakah ada korban yang selamat. Dae Young memeriksa supir, dan ternyata supirnya sudah tak bernyawa. Kemudian Dae Young dan temannya mendapati seorang penumpang yang hidup. Penumpang,”Polisi! Angkat tangan!. Jangan tembak2 Saya dari PBB”. Akhirnya Dae Young dan temannya tak jadi menembak penumpang itu.
Dae Young dan Shi Jin memeriksa bagian lain di mobil itu. Disisi lain, penumpang itu malah berniat jahat dan mengambil senjata di mobilnya. Penumpang itu mengarahkan pistolnya ke arah Shi Jin, namun Shi Jin langsung memukul orang itu. Prajurit lain mengarahkan senjatanya ke orang itu, Prajurit,”Bukanya dia anggota PBB ?”. Shi Jin,”Bahkan jika tim keamanan PBB tidak diijikankan membawa senjata. Namun dia membawa sebuah senjata”.
Shin Jin menebak orang yang tadi menembak itu bukanlah dari PBB, karena memiliki ciri tattoo dari pasukan luar negeri. Selain itu, baju yang mereka kenakan cukup berbeda dari anggota PBB. Shi Jin memprediksi orang2 ini berpura2 menjadi anggota PBB. Ternyata di dalam mobil itu ada banyak senjata yang disembunyikan dibalik kardus. Shi Jin menelpon kepolisian setempat. Komandan polisi Uruk berterima kasih atas bantuan yang diberikan oleh Shi Jin.
Ikuti update Juragan Sinopsis setiap hari lewat Twitter di @Rujakdulit









